Breaking News:

Berita Internasional

Kisah Sarah Gilbert Pencipta Vaksin AstraZeneca, Rela Tak Ambil Hak Paten Agar Semua Bisa Membuat

Seorang ilmuan Univerfitas Offord Prof Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan di balik terciptanya vaksin AstraZeneca, mengaku enggan mengambil penuh hak p

Editor: m nur huda
YOUTUBE MOJO STORY
Dame Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca, mendapat standing ovation di ajang Wimbledon 2021, Senin (28/6/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, LONDON - Seorang ilmuan Univerfitas Offord Prof Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan di balik terciptanya vaksin AstraZeneca, mengaku enggan mengambil penuh hak paten agar harga vaksin Covid-19 ciptaannya bisa murah.

"Saya ingin buang jauh-jauh gagasan itu (mengambil hak paten penuh), agar kita bisa berbagi kekayaan intelektual dan siapa pun bisa membuat vaksin mereka sendiri," ujar wanita berusia 59 tahun itu ke parlemen Inggris, dikutip dari Reuters, 11 Maret 2021.

Kala itu sedang ada pembahasan tentang siapa pemegang hak paten vaksin Covid-19 nantinya.

Baca juga: Suplai Vaksin AstraZeneca dari Jepang Tiba di Tanah Air, Topang Percepatan Vaksinasi Nasional

Baca juga: Vaksin AstraZeneca Baru Tiba di Indonesia, Apa Bedanya dengan Vaksin Sinovac? Mana Lebih Ampuh?

Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) yang mendukung lebih banyak produksi untuk negara-negara miskin, juga sepakat dengan Prof Gilbert.

"Bukan kekayaan intelektual tunggal yang bisa membuat produk (vaksin) ini," ujar Presiden DCVMN, Sai Prasad, yang juga petinggi di produsen vaksin India, Bharat Biotech.

Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca.
Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca. (UNIVERSITY OF OXFORD)

Baca juga: Peran Indra Rudiansyah Pemuda Indonesia di Balik Terciptanya Vaksin Covid-19 AstraZeneca

Sejalan dengan pemikiran Sarah Gilbert, AstraZeneca pun meneken persetujuan dengan Oxford untuk tidak mengambil profit dari vaksin corona buatan mereka.

"Tudingan bahwa kami menjual ke negara lain untuk menghasilkan lebih banyak uang tidak benar, karena kami tidak mengambil profit di mana-mana," ungkap CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, dikutip dari Health Policy 28 Januari 2021.

"Itu kesepakatan yang kami miliki dengan Universitas Oxford."

AstraZeneca menyatakan, mereka baru akan menentukan harga setelah pandemi Covid-19 usai, menurut keterangan juru bicaranya kepada Kaiser Health News, 25 Agustus 2020.

"(Kami) berkomitmen memastikan akses yang adil, secara global," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved