Idul Adha 2021

Penjualan Tusuk Sate dan Arang di Kendal Sepi Pembeli

Pedagang di sejumlah pasar tradisional Kendal pasrah ketika dagangan tusuk sate dan arang sepi pembeli

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Pedagang tusuk sate dan arang di Pasar Tradisional Kota Kendal menunjukkan stok dagangan yang masih banyak karena sepi pembeli, Senin (19/7/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pedagang di sejumlah pasar tradisional Kendal pasrah ketika dagangan tusuk sate dan arang sepi pembeli menjelang Hari Raya Iduladha 2021/1442H. Bahkan, persediaan dagangan masih cukup banyak di beberapa penjual, sementara Lebaran Kurban tinggal menghitung jam lagi.

Seperti yang dialami Wartiyah (50), pedagang tusuk sate dan arang di Pasar Tradisional Kota Kendal. Wartiyah mengatakan, stok perlengkapan untuk membakar sate masih banyak.

Dari total 100 ikat tusuk sate dan 50 plastik arang, ia baru bisa menjual sebagian kecilnya. Padahal, Wartiyah sudah berjualan lebih awal beberapa hari dari biasanya. 

"Jualannya (arang dan tusuk sate,red) sudah beberapa hari lalu, sudah 10 hari. Tapi ya gini tetap aja sepi, ada yang beli paling sedikit-sedikit. Arangnya baru laku 10 bungkus, tusuk satenya gak ada 10 ikat, alat bakarannya baru laku 2 yang kecil," terangnya di pasar, Senin (19/7/2021).

Wartiyah menyadari jika permintaan tusuk sate dan arang tahun ini menurun 40-50 persen di banding Iduladha 2020 lalu. Akan tetapi, ia tidak mengetahui pasti apa saja yang menjadi penyebabnya. 

"Mungkin karena yang kurban sedikit, bisa juga karena ekonomi, jadi lebih pilih beli yang bisa dimakan sehari-hari. Kalau kenaikan harga sepertinya tidak, naiknya cuma Rp 500 - Rp 1.000 saja," ujarnya.

Wartiyah yang juga sebagai penjual perabot rumahtangga itu melanjutkan, stok arangnya diambil dari Kota Semarang. Pada tahun ini, ia hanya berani menyetok 1 karung arang saja agar nantinya tidak tersisa banyak. Sementara tusuk sate diambil dari masyarakat Kendal.

Satu ikat tusuk sate isi 200 tusuk dibandrol Rp 8.000, satu plastik arang dibandrol Rp 3.000, dan satu alat bakaran dibandrol Rp 13.000 - Rp 17.000. Harga tersebut rata-rata naik Rp 500 - Rp 1.000 per ikat/bungkus.

Untuk menarik calon pembeli, Wartiyah membagi 1 ikat tusuk sate isi 200 tusuk menjadi 4 ikat. Satu ikatnya berisi 50 tusuk dengan harga Rp 2.500.

Siasat ini dilakukan untuk memfasilitasi masyarakat yang hanya mau membeli tusuk sate dan arang dalam jumlah sedikit. Dengan harapan, ada peningakatan penjualan di sisa waktu momen Iduladha kali ini.

"Tahun lalu, dalam sehari bisa menjual 50 ikat tusuk sate dalam satu hari, ya saat 3 hari menjelang Lebaran Kurban. Tahun ini boro-boro bisa sama, sehari bisa jual 20-30 ikat saja sudah bagus," jelasnya.

Di sisi lain, sejumlah sayur-sayuran mengalami kenaikan harga jelang Hari Raya Iduladha. Kenaikan dipicu karena stok bahan yang tidak terlalu banyak dan momentum Hari Raya Kurban.

Pedagang sayuran di Pasar Kota Kendal, Jumanah mengatakan, beberapa jenis sayuran mengalami kenaikan Rp 5.000 - Rp 7.000 perkilonya.

Seperti contoh, harga 1 kilogram tomat kini dibandrol Rp 22.000 dari harga normalnya Rp 15.000. Kenaikan juga terjadi pada daun slada dari Rp 13.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram dan cabai rawit merah dari Rp 40.000 menjadi Rp 46.000 perkilogram.

"Ya kenaikan ini karena menjelang Iduladha. Semoga kembali normal dan ramai pembeli lagi," tuturnya. (Sam)

Baca juga: Denny Sumargo Pernah Habiskan Rp 30 Miliar untuk Judi: Saya Dulu Nakal

Baca juga: Pak Bhabin Pajang Laweyan Aipda S Widodo jadi Koordinator Pemulasaraan Jenazah Covid-19 

Baca juga: CIMB Niaga Catat Pertumbuhan KPR Pada Kuartal Pertama 2021

Baca juga: Sebelum Dirudapaksa dan Dibunuh, E Sempat Kirim Pesan Minta Tolong ke Sejumlah Temannya

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved