Wabah Corona

Bolehkah Donor Plasma Konvalesen Satu Bulan Sebanyak Dua Kali? Ini Kata Dokter

Ahli Terapi Plasma Konvalesen (TPK) Dr dr Theresia Monica Rahardjo SpAn KIC MSi berharap, pemerintah serius mempermudah masyarakat

kompas.com
ILUSTRASI kantong darah hasil donor plasma konvalesen dari pasien covid yang telah sembuh 

Sebaiknya segera dibentuk bank plasma. Kalau kita lihat 85 persen itu sembuh dengan antibodi sendiri atau istilah kerennya sembuh sendiri. Tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, itu 85 persen. 15 persen itu gejala berat dan kritis yang akan masuk dirawat.

Merupakan cerminan juga dari populasi komorbid. 85 persen itu, 30 persen OTG, 55 persen gejala ringan dan sedang. Populasi yang ini seharusnya digalangkan untuk jadi donor plasma. Penyintas itu sudah 2 juta kalau tidak salah.

Apa perlu kita membentuk lembaga khusus untuk bank plasma atau diserahkan ke PMI?

Saat ini yang kompetensi yang memadai PMI karena jaringannya di seluruh Indonesia. Banyak sekali biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi hal ini. Kalau kita membentuk lembaga baru agak kasihan pemerintahnya.

Yang paling baik memaksimalkan yang sudah ada. Dan jaringan seluruh Indonesia yang ada adalah PMI. Proses untuk pengambilan plasma itu sudah biasa. Dilakukan sehari-hari hanya kekhususannya saja.

Misalnya gini rumah sakit-rumah sakit itu kan rujukan. Banyak sekali data pasien yang sembuh dari covid ada yang ringan, sedang, berat. Ada baiknya ada MoU perjanjian atau kerja sama, rumah sakit bisa menyerahkan data itu ke PMI. Tapi tetap kerahasiaan pasien.

Jumlah plasma setiap orang sama atau seperti apa?

Nah ini yang suka salah kaprah. Yang sedang, berat, kritis, hanya dua tok. Ya kurang. Jadi tergantung, kalau stadium sedang umumnya dikasih dua atau tiga kalau ada komorbid, kalau stadium berat itu bisa tiga atau empat, kalau kritis bisa lima atau enam. Ada salah pemahaman dari masyarakat atau teman sejawat. Nanti aja kalau sudah kritis dikasih plasma. Loh tidak.

Apa syarat orang yang bisa menjadi pendonor plasma?

Pertama harus alumni Covid-19. Tandanya swab PCR positif. Kedua, kalau penyakitnya sedang atau berat itu harus PCR ulang kalau mau pulang. Kedua hasil PCR-nya negatif. Tetapi karena ada perubahan ISOMAN. Maka peraturan itu jadi PCR negatif atau 14 hari bebas gejala dan dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat.

Jangan sampai kelahi di PMI karena salah pengertian. Sebaiknya tidak boleh wanita yang sudah hamil, melahirkan, dan keguguran. Ini karena demi keamanan dan keselamatan penerima plasma. Karena wanita yang sudah hamil, melahirkan, dan keguguran.

Dia punya satu faktor yang bisa menyebabkan reaksi alegri paru-paru. Faktor HLA, reaksi alegri berat kepada penerimanya. Makanya yang diutamakan pria. Itu bisa menjadi seorang pendonor plasma. Atau wanita yang masih single. Tapi prioritas pria. (tribun network/denis destryawan)

Baca juga: Merasa Sehat dan Menolak Vaksin, Faisal Menyesal Setelah Dipasangi Oksigen Seminggu Akibat Covid-19

Baca juga: Hirup Udara Bebas, Reza Artamevia Siap Kembali ke Dunia Hiburan

Baca juga: Atlet Indonesia Jalani Tes Air Liur, Protokol Kesehatan di Tokyo Ketat

Baca juga: Penyesalan Reza Artamevia Setelah Bebas dari Panti Rehabilitasi karena Kasus Narkoba

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved