Breaking News:

Berita Banjarnegara

Larangan Hajatan saat Pandemi, Pengantin Bisa Irit hingga Warga Senang Libur Kondangan

PPKM telah membatasi berbagai aktivitas masyarakat untuk memutus mata rantai Covid 19.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Suasana ruang pelayanan KUA Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Rabu (21/7/2021). 

TRIBUNBANYUMAS. COM, BANJARNEGARA - PPKM telah membatasi berbagai aktivitas masyarakat untuk memutus mata rantai Covid 19. Berbagai kegiatan yang berpotensi mengundang kerumunan pun ditiadakan, termasuk gelaran hajatan, baik sunatan, resepsi pernikahan, atau lainnya. 

Gelaran hajatan atau pesta selama ini melahirkan tradisi tersendiri di tengah masyarakat. Warga menyebutnya dengan istilah beragam, mulai Buwoh, Mbecek, atau yang lebih familiar Kondangan atau Nyumbang. 

Karena telah mengakar, tradisi ini sulit dihilangkan. Meski diakui, sebagian masyarakat keberatan memikul tradisi ini. 
Di satu sisi, tradisi ini cukup membantu pemilik hajat dalam menutup kebutuhan pestanya.  Tetapi di sisi lain, tradisi ini banyak dikeluhkan lantaran memaksa warga untuk menyumbang uang atau barang ke pemilik hajat. Terlebih jika acara itu bertepatan dengan kondisi ekonomi keluarga yang tengah sulit. 

Pemilik hajat pun belum tentu senang lantaran yang diterimanya sejatinya "hutang" untuk dikembalikan kemudian. Sedangkan sumbangan itu sebagian hanya habis untuk menutup modal pesta, semisal menyewa tenda, catering, atau lainnya. 

Pandemi yang meniscayakan larangan bagi warga menggelar hajatan banyak dikeluhkan pengusaha pernikahan, mulai pemilik tenda atau sound system, rias pengantin, catering hingga Wedding Organizer (WO).  Kebijakan itu membuat pengusaha atau pekerja kehilangan pendapatan karena sepi job. 

Tetapi di sisi lain, tidak adanya gelaran hajatan ternyata bisa melegakan sebagian masyarakat, termasuk keluarga pengantin. 

Rofikoh, calon pengantin asal Desa Prendengan Kecamatan Banjarmangu sibuk mengurus persiapan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Rabu (21/7/2021). 

Pandemi dan kebijakan PPKM yang melarang gelaran hajatan  tak menghalanginya untuk menikah 25 Juli mendatang. 

Karyanto, orang yang mendampingi Rofikoh mengurus pernikahan di KUA mengatakan, meski ada larangan menggelar hajatan, masyarakat di desanya tetap menggelar prosesi pernikahan sesuai protokol kesehatan. 

Larangan menggelar pesta pernikahan, menurut dia, justru memberikan kesempatan bagi keluarga calon pengantin untuk menggelar prosesi pernikahan secara sederhana. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved