Breaking News:

Berita Sragen

Bupati Sragen Pastikan Pasien Covid-19 Isoman Terdata Dapat Obat dan Bantuan Jatah Hidup

Masyarakat Kabupaten Sragen yang menjalani isoman di rumah wajib diberikan obat bagi yang usianya diatas 18 tahun dan mendapatkan bantuan.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: moh anhar
DOKUMENTASI PRIBADI
Ilustrasi bantuan kepada warga yang sedang menjalani isolasi mandiri. 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Masyarakat Kabupaten Sragen yang menjalani isolasi mandiri (Isoman) di rumah wajib diberikan obat bagi yang usianya diatas 18 tahun dan mendapatkan bantuan jatah hidup (Jadup).

Hal tersebut ditegaskan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, sepanjang warga tersebut terdata sebagai pasien positif Covid-19 di Kabupaten Sragen.

"Kami mengambil kebijakan yang isoman ini adalah satu kita wajib berikan obat khusus untuk yang usianya diatas 18 tahun. Obat yang bertanggung jawab adalah dokter Puskesmas di wilayah masing-masing," kaya Bupati.

Obat tersebut terdiri dari obat anti-virus, vitamin, obat batuk hingga antibiotik. Namun jika pasien dirasa tidak perlu obat-obat tersebut hanya akan diberi vitamin saja.

Baca juga: PPKM, Kapten PSIS Kesulitan Cari Lokasi Latihan Mandiri

Baca juga: Tangis Sedih Bocah Vino Dengar Ayah Ibunya Meninggal: Kok Bisa Meninggal? Ayah Ibu kan Masih Muda?

Baca juga: Sempat Bikin Baliho Kontroversial, Kades Jenar Sragen Akhirnya Divaksin Covid-19 oleh Bupati Yuni

Baca juga: Wajah Cantik Raisa Mejeng di Billboard Times Square New York, Bangga dan Merasa Terhormat

Yuni menyampaikan obat-obat tersebut telah didrop di Puskesmas untuk didistribusikan oleh bidan desa bersama dengan Babinsa dan bhabinkamtibmas kepada pasien.

Selain mendapatkan obat, pasien yang Isoman juga mendapatkan Jadup. Yakni satu keluarga mendapatkan satu Jadup dalam satu kali masa periodisasi Isoman.

Perbaikan Data

Yuni mengatakan pihaknya akan memperbaiki sistem data.

Pasien yang Isoman dan selesai Isoman akan langsung terdata secara otomatis.

Data ini akan bersinergi dengan Babinsa serta Bhabinkamtibmas.

Data ini diharapkan pasien yang menerima obat dan Jadup akan terdata dengan baik.

Yuni mengatakan pihaknya mencukupi kebutuhan mereka yang Isoman.

Pasien Isoman dikatakan Yuni harus masuk di beberapa kriteria diantaranya klaster keluarga.

"Isoman yang boleh di rumah itu kan ada kriterianya satu dia klaster keluarga. Berarti ayah, ibu, anak minimal itu harus kena, kalau dia hanya satu kepala keluarga yang kita bawa ke Technopark," kata Yuni.

Baca juga: Video Sopir Travel Rudapaksa Penumpang ABG di Tegal Ditangkap

Baca juga: Kota Tegal Berstatus PPKM Darurat Level 4, Apa Artinya?

Baca juga: Sopir Bus Pariwisata Pati Demo Bunyikan Klakson, Protes PPKM Darurat Diperpanjang

Isoman selanjutnya ialah orang dengan disabilitas yang tidak memungkinkan untuk dirawat di Technopark.

Ketiga pasien yang harus melakukan Hemodialisa secara berkala.

Selain itu anak-anak, ibu hamil serta ibu menyusui juga tidak boleh.

Yuni melanjutkan sejauh ini kasus Covid-19 di Sragen terbanyak memang berasal dari klaster keluarga. Pihaknya mencatat setidaknya ada 80 persen di Sragen masuk klaster keluarga. (*i)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved