Breaking News:

Fenomena Warga Isoman Meninggal: Mereka Bingung dan Tak Dipantau

faktor paling utama yang menyebabkan banyak pasien covid-19 meninggal saat menjalani isoman adalah tak adanya dokter yang memantau kondisinya

Editor: Vito
ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
ilustrasi - Petugas pemakaman beristirahat usai memakamkan sejumlah jenazah dengan protokol covid-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (4/7). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Fenomena warga terpapar covid-19 meninggal dunia di luar fasilitas kesehatan terus meningkat.

LaporCovid-19 melaporkan hingga Kamis (22/7/2021) tercatat sebanyak 2.313 orang yang meninggal di luar rumah sakit saat menjalani isolasi mandiri akibat infeksi virus corona. 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta, Slamet Budiarto menilai, ada sejumlah faktor yang menyebabkan banyak pasien covid-19 meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri.

Menurut dia, faktor paling utama adalah tak adanya dokter yang memantau kondisi pasien setiap harinya.

"Mereka itu bingung mau nanya ke siapa, enggak ada dokter pendampingnya. Kalau di luar negeri itu ada dari dokter yang tiap hari video call memantau kondisi pasien isolasi mandiri," katanya, kepada Kompas.com, Kamis (22/7).

Dengan memantau pasien isolasi mandiri, dia menambahkan, dokter bisa melakukan deteksi dini sebelum terjadinya pemburukan kondisi pada pasien. Dokter pun bisa memberi penanganan yang tepat seperti memberi obat-obatan atau merujuk pasien ke RS.

"Tapi masalahnya jumlah dokter kita terbatas. Untuk menangani pasien di rumah sakit saja kurang, apalagi untuk memantau yang isolasi mandiri," tandasnya.

Ia menilai, fasilitas telemedicine yang disediakan pemerintah tidak bisa menjadi solusi. Sebab, dengan fasilitas itu, dokter tetap tak bisa mengawasi perkembangan kondisi pasien dari hari ke hari. "Dan tidak semua orang bisa mengakses telemedicine itu," ujarnya.

Slamet sudah mengusulkan solusi agar pemerintah segera mempekerjakan 3.500 lulusan fakultas kedokteran untuk bisa memantau pasien isolasi mandiri.

Namun, mereka justru terhambat oleh aturan uji kompetensi di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved