Breaking News:

Berita Semarang

Jumlah Pasien Covid-19 di Semarang Melandai, tapi Angka Kematiannya Masih Tinggi, Ini Penyebabnya

Secara persentase kasus kematian di Semarang masih tergolong tinggi. Rata-rata pasien Covid-19 meninggal dunia sebanyak 340 orang per minggu.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar
Tribun Jateng/Iwan Arifianto.
Suasana pemakaman jenazah Covid-19 di TPU Jatisari Mijen, Rabu (23/6/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengklaim angka kematian kasus Covid-19 di ibu kota Jawa Tengah menurun selama penerapan PPKM Darurat.

Namun demikian, secara persentase kasus kematian di Semarang masih tergolong tinggi.

Pada 3 Juli atau minggu ke-26 pada tahun ini, rata-rata pasien Covid-19 meninggal dunia sebanyak 340 orang per minggu.

Memasuki minggu ke-28, rata-rata pasien yang meninggal mengalami penurunan menjadi 271 orang per minggu.

"Turun. Meski begitu, secara persentase masih 6,2 persen. Turun dari 6,4 persen pada 3 Juli," sebut Hendi, sapaan akrabnya, Kamis (22/7/2021).

Dia menjelaskan, angka tersebut masih tergolong tinggi berdasarkan catatan dari pemerintah pusat lantaran masih berada di atas rata-rata nasional.

Pemerintah pusat mencatat angka kematian maksimal lima persen.

Dia pun belum mengetahui secara pasti penyebab angka kematian di Kota Lumpia masih tinggi.

Namun demikian, dia memahami bahwa selama PPKM darurat banyak pasien yang datang ke rumah sakit tidak mendapatkan tempat tidur.

Di samping itu, ketersediaan ambulans yang terbatas untuk proses perjalanan ke tempat karantina atau rumah sakit.

Termasuk, kata dia, pemahaman mengenai kesehatan yang masih kurang selama menjalani isolasi mandiri di rumah.

"Kemungkinan saat masa-masa sangat sulit kemarin karena tidak mendapatkan kamar, mereka isolasi mandiri. Pemahaman kesehatan kurang. Akhinya saat saturasi rendah tidak paham. Saturasi itu apa, harus bagaimana, cari oksigen dimana. Itu mungkin jadi salah satu faktor angka kematian tinggi di Semarang," jelasnya.

Pemerintah Kota Semarang, lanjut Hendi, terus berupaya menyalurkan bantuan obat-obatan dari TNI, Polri, atau relawan-relawan yang lain.

Apalagi, Presiden Republik Indonesua juga telah memerintahkan TNI untuk membantu membagikan obat bagi warga yang melakukan isolasi mandiri.

"Kami lakukan percepatan dibantu babinsa dan babinkamtibmas," ucap Hendi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved