Breaking News:

PPKM Darurat

4 Hotel Kabupaten Semarang Dijual Pemilik, Tak Kuat Kena PPKM: Beban Listrik dan Okupansi 0 Persen

Penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diperpanjang menjadi PPKM Level 4.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Nafiul Haris
Ketua PC-PHRI Kabupaten Semarang Fitri Rizani. 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diperpanjang menjadi PPKM Level 4 dikeluhkan pelaku usaha perhotelan di Kabupaten Semarang. 

Ketua Pengurus Cabang Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PC-PHRI) Kabupaten Semarang Fitri Rizani mengatakan dampak perpanjangan PPKM Darurat atau Level 4 membuat pelaku usaha yang terkait bidang pariwisata terancam gulung tikar. 

"Saat ini PPKM Darurat sangat memberatkan kami dari sektor usaha perhotelan maupun restoran, lebih-lebih perhotelan. Saat ini satu pengunjungpun tidak datang yang kami pikirkan adalah karyawan, pemerintah membuat kebijakan tapi tidak ada stimulus," terangnya kepada Tribunjateng.com, di Kampoeng Kopi Banaran, Kabupaten Semarang, Kamis (22/7/2021)

Menurutnya, pelaku usaha restoran maupun perhotelan tidak keberatan dengan kebijakan pemerintah baik PPKM Darurat atau lainnya. Tetapi, lanjutnya bukan berarti menutup aktivitas usaha melainkan hanya melakukan pembatasan-pembatasan. 

Ia menambahkan, karena biaya operasional perhotelan yang sangat tinggi ditambah minimnya pemasukan terpaksa beberapa pengusaha menjual hotelnya kepada investor. 

"Yang lewat kami sudah ada empat hotel agar ditawarkan. Biaya membayar listrik dan sebagainya ini memberatkan, okupansi nol persen, kita pemasukan anjlok," katanya

Rizani mengatakan, selama penerapan PPKM Darurat pengunjung yang menginap di sejumlah hotel di Kabupaten Semarang menurun drastis bahkan ketika akhir pekan. 

Dia berharap, pemerintah memberikan bantuan kepada para karyawan perhotelan maupun resto baik melalui skema bantuan tunai langsung maupun tidak langsung. 

"Kabupaten Semarang ini merupakan lokasi destinasi wisata. Jadi tutupnya wisata kita juga sama, karyawan sudah dirumahkan 50 persen, yang kami khawatirkan kedepan adalah PHK besar-besaran. Karena kami sudah tidak sanggup membiayai, total anggota kami kurang lebih 3 ribu orang," ujarnya (ris) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved