Breaking News:

Berita Tegal

33 Warga Kabupaten Tegal Meninggal Dunia Selama Menjalani Isolasi Mandiri di Rumah

Jumlah kasus kematian pasien isoman selama 25 hari terakhir yang berhasil dievakuasi tim relawan PMI Kabupaten Tegal capai 33 orang.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: Daniel Ari Purnomo
Humas Pemkab Tegal
Bupati Tegal Umi Azizah. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Bupati Tegal Umi Azizah meminta peran Satgas Jogo Tonggo bisa dioptimalkan lagi untuk mencegah meluasnya penularan dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi covid-19, termasuk meminimalkan kasus kematian pada pasien isolasi mandiri (isoman).

"Jogo Tonggo harus terus diperkuat dan jangan sampai rapuh. Di sini, antar-tetangga harus bisa saling menjaga, saling melindungi dan berbagi di tengah situasi sulit tekanan ekonomi dan ancaman penularan covid-19," katanya, dalam rilis yang diterima Tribun Jateng, Minggu (25/7).

Menurut dia, banyaknya kasus kematian pada pasien isoman menjadi alarm bagi rukun tetangga agar lebih peduli menjaga warganya, dan responsif manakala mendapati perburukan kondisi.

Umi mengungkapkan, jumlah kasus kematian pasien isoman selama 25 hari terakhir yang berhasil dievakuasi tim relawan Palang Merah Indonesia (PMI) di Kabupaten Tegal mencapai 33 orang.

Ia berujar, ada kalanya pemantauan pasien isoman itu dihadapkan pada situasi yang terbatas, karena tenaga kesehatan di wilayah juga harus melaksanakan tracking dan testing, melakukan vaksinasi, dan tugas pelayanan kesehatan lain. Belum lagi jika mereka terpapar covid-19, sehingga terpaksa harus menjalani isoman juga atau dirawat di rumah sakit.

"Kondisi inilah yang menuntut peran lebih dari satgas Jogo Tonggo untuk ikut membantu memberikan pemahaman yang benar soal risiko covid-19, dan menyadarkan keluarga utamanya pada pasien isoman agar mau dirujuk ke rumah sakit jika mengalami gejala sakit atau perburukan kondisi," jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik jika faktor jenuh, kebutuhan mobilitas, dan geliat ekonomi warga bisa menjadikan benteng ini rapuh.

Ditambah masih kurangnya pemahaman warga akan risiko dan bahaya covid-19 sebagai tantangan tersendiri yang dapat memperburuk situasi.

“Melihat karakteristik penduduk kita, konsep pendekatan jogo tonggo sangat tepat untuk menumbuhkan kesadaran warga di tengah tekanan dinamika sosial yang bisa menjadikan kewaspadaan setiap orang akan penularan virus corona ini kendur dan longgar,” ujarnya.

Umi menuturkan, pandemi covid-19 yang berkepanjangan tidak saja berdampak di sisi kesehatan masyarakat, tapi sekaligus ujian bagi kehidupan sosial.

“Di sinilah rasa kamanungsan dan ukhuwah wathaniyah kita diuji. Sejauh mana ikatan paseduluran yang ada mampu menumbuhkan sikap peduli, menggerakkan semangat kegotongroyongan membantu saudara, tetangga yang sedang ditimpa musibah,” ucapnya.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved