Berita Semarang

Praktik Jual Beli Plasma Konvalesen di Kota Semarang: Dua Kantong Capai Rp8,5 juta

Praktik jual beli plasma konvalesen kerap terjadi di tengah melonjaknya kasus Covid-19 di Kota Semarang.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: moh anhar
kompas.com
ILUSTRASI kantong darah hasil donor plasma konvalesen dari pasien covid yang telah sembuh 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Praktik jual beli plasma konvalesen kerap terjadi di tengah melonjaknya kasus Covid-19 di Kota Semarang.

Ada puluhan oknum penyintas Covid-19 sengaja melakukan transaksi jual beli plasma demi keuntungan pribadi.

Nilainya cukup besar, dua kantong plasma dipatok harga Rp8,5 juta.

Prinsip pasar berlaku, meksi harga mahal para pasien Covid-19 yang membutuhkan donor plasma tetap membelinya.

Relawan donor plasma Semarang, Aqhsan mengatakan, pernah ditawari plasma golongan darah o+ sebanyak dua kantong seharga Rp8,5 juta. 

Baca juga: Eko Yuli Bersyukur Persembahkan Perak untuk Indonesia, Catat Prestasi Beruntun di Empat Olimpiade

Baca juga: Bupati Batang Wihaji : Isoman di Posko Jogo Tonggo Akan Terjamin

Ketika itu dia tawari  oleh tetangganya karena tahu aktivitasnya sebagai relawan donor plasma. 

"Saya juga sempat kaget adanya hal itu. Oknum tersebut saya nasihati seharusnya diniati untuk bapak ibu mu yang sudah meninggal. Buat sangu di akhirat namun oknum tersebut tetap tak mau dan berniat menjualnya," terangnya kepada Tribunjateng.com, Minggu (25/7/2021).

Dia menuturkan, memang pernah beberapa kali mendengar praktik jual beli plasma, namun sejauh ini hanya sekali ditawari jual beli plasma tersebut. 

"Ya sering dengar ada jual beli plasma tapi pengalaman ketemu langsung hanya sekali itu," paparnya. 

Dia mengungkapkan, seharusnya plasma konvalesen gratis bagi penderita Covid-19.

Meskipun ada biaya untuk proses apheresis, pihak rumah sakit tak boleh memberikan beban biaya itu ke pasien karena ditanggung negara. 

"Sejauh ini yang aku tolong mencarikan donor plasma murni gratis. Tak ada biaya apapun," ungkapnya. 

Pendonor plasma, A Wicaksono menyebut, mendonorkan plasmanya secara gratis lantaran diniatkan untuk ibadah.

Apalagi, kata dia, darah plasma yang ada di tubuhnya tak diperoleh dengan cara membeli.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved