Kesehatan

Apakah AstraZeneca Aman untuk Vaksinasi Anak 12-17 Tahun?

Satu anggota tim uji klinis vaksin Covid-19 AstraZeneca merupakan putra asal Indonesia.

istimewa
diskusi via live Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Irlandia dan International Maritime Organization, Desra Percaya bersama peneliti AstraZeneca 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG- Satu anggota tim uji klinis vaksin Covid-19 AstraZeneca merupakan putra asal Indonesia.

Dia adalah Indra Rudiansyah yang mendapatkan kesempatan sebagai tim uji klinis itu melalui studinya di Jenner Institute University of Oxford.

Indra yang kini mengambil studi doktoral atau doctor of philosophy (PhD) tersebut membeberkan seluk beluk vaksin yang juga memiliki nama lain Oxford-AstraZeneca ini.

Termasuk, menjelaskan apakah aman untuk anak-anak dan remaja usia 12-17 tahun atau tidak.

"Berdasarkan hasil uji klinis, AstraZeneca diperuntukan 18 tahun ke atas," kata Indra dalam acara Ngosyek atau Ngobrol Asyeek di live Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Irlandia dan International Maritime Organization, Desra Percaya, Minggu (25/7/2021) malam.

Oleh karena itu, AstraZeneca tidak cocok untuk anak-anak atau remaja. Seperti diketahui, saat ini pemerintah tengah menggencarkan vaksinasi terhadap pelajar usia 12-17 tahun.

Jebolan Institut Teknologi Bandung ini juga menanggapi informasi bahwa AstraZeneca tidak cocok untuk usia 30 tahun ke bawah.

Pada dasarnya, kata dia, semua obat atau vaksin terdapat efek samping. Namun, juga ada keuntungan atau benefit yang lebih besar.

"Benefit yang besar itulah alasan kenapa digunakan. Alasannya manfaatnya lebih tinggi," jelasnya.

Ia memberikan contoh terkait pengobatan kemoterapi untuk penyakit kanker. Menurutnya, efek samping yang ditimbulkan kemoterapi banyak, namun manfaatnya untuk penyembuhan juga lebih besar.

Indra menambahkan vaksinasi sangat penting agar tercipta kekebalan kelompok atau herd immunity. Oleh karenanya, dia mendorong masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi.

"Semakin besar populasi yang sudah divaksin, maka sedikit orang yang kena," jelasnya.

Atau paling tidak, lanjutnya, kemungkinan sembuh bagi orang yang sudah divaksin akan semakin tinggi. Indra pun mengingatkan agar masyarakat jangan takut untuk divaksin.

Indra juga menceritakan awal mula dia ikut menjadi anggota tim uji klinis AstraZeneca.
Awalnya, dia mengajukan beasiswa S3 ke Lembaga Pengelola Pendidikan (LPDP) ke Oxford pada 2014.

Saat itu, dia mengajukan penelitian untuk pengembangan vaksin malaria. Namun setelah menjalani studi, dan pandemi melanda, dia ditawari untuk bergabung ke dalam tim uji klinis vaksin.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved