Breaking News:

Perjuangan Sururi dan Nelayan Tanam serta Rawat Mangrove di Pesisir Semarang

Selama 24 tahun, Sururi aktif menanam mangrove di kasawan pesisir Mangunharjo, Kota Semarang

Penulis: iwan Arifianto | Editor: galih pujo asmoro

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sururi (63) bersama tiga rekan nelayan membawa belasan ikat bibit mangrove. Hari masih pagi, jam menunjukan pukul 07.00 WIB, mereka berpacu dengan waktu lantaran takut air pasang yang akan terjadi sekira pukul 10.00 WIB. Mereka segera menuju kawasan daratan baru yang belum lama terbentuk akibat sedimentasi pantai.

Setiba di kawasan sepanjang hampir 100 meter dengan lebar hampir 10 meter mereka segera menurunkan belasan ikat bibit mangrove. Dengan cekatan Sururi dan nelayan membentangkan tali membentuk garis lurus kemudian menancapkan batang bambu setinggi sekira 50 sentimeter dengan jarak tertentu. Bambu itu berfungsi sebagai penahan bibit mangrove.

"Total ada 2 ribu bibit yang kami tanam pagi ini. Tak hanya di tanam namun untuk tambal sulam karena ada sejumlah bibit yang rusak akibat dihantam gelombang dan kepanasan di sebelah sana," ujar Sururi sembari menunjuk ke arah barat saat ditemui Tribunjateng.com di kawasan pesisir Mangunharjo, Tugu, Kota Semarang, Minggu (25/7/2021).

Di tempat yang ditunjuk Sururi, terdapat ratusan bibit yang rusak. Bibit tampak layu berwarna kecokelatan. Dia menuju tempat itu, lalu melakukan tambal sulam. Sesekali dia membetulkan masker warna putih sambil mengoleskan roll aromatherapy ke lapisan luar maskernya.

Hampir tiga jam ia berkutat di tempat itu. Akhirnya, Sururi dan tiga nelayan lainnya menyelesaikan penamanan dan penyulaman bibit. Kebetulan mereka dibantu sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tengah mengisi waktu luang di tempat itu. Tak berselang lama, air pasang mulai naik yang membuat pesisir tenggelam.

Begitulah keseharian Sururi selama pandemi Covid-19. Dibantu beberapa nelayan setempat, mereka aktif melakukan rehabilitasi pesisir Mangunharjo yang berada di ujung barat Kota Semarang, berbatasan dengan Kabupaten Kendal. Sururi sudah melakoni hal itu selama 24 tahun.

Sejak 1997 ia telah menaman bibit mangrove di pesisir Mangunharjo. Hasilnya di pesisir tersebut sepanjang 2.700 meter dari total garis pantai sudah ditanami mangrove. Sementara total garis pantai di lokasi itu sepanjang 3.400 meter.

Sururi mulai sadar untuk menanam mangrove saat melihat kampungnya mulai terkikis abrasi pantai yang terhitung parah mulai 1995. Andai kondisi itu dibiarkan, ucap dia, diprediksi wilayah pesisir di Mangunharjo akan hilang.

Kurun waktu tahun 1990-2000, abrasi kawasan Mangunharjo menyebabkan terkikisnya pesisir hingga mengancam permukiman warga. Kala itu, jarak antara permukiman hingga bibir pantai tinggal sekitar 500 meter. Padahal sebelumnya 1,6 kilometer. Selepas gencar melakukan penanaman, kini jarak permukiman dengan pesisir kembali terentang jauh sekitar 1,4 kilometer. Tak heran atas kiprahnya tersebut, dia mendapat berbagai julukan. Mulai dari profesor mangrove dan kyai bakau.

Selama pandemi Covid-19, dia rutin menanam meski jumlah bibit yang ditanam kini jauh berkurang. Menurutnya, tiap tahun mampu menanam sekira 50 ribu bibit. Namun di masa pandemi, ia hanya mampu menanam 20 rbu hingga 30 ribu bibit mangrove. Turunnya jumlah bibit dipengaruhi peran CSR dari berbagai lembaga di rehabilitasi mangrove.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved