Breaking News:

Berita Jepara

Menengok Perajin Gerabah di Mayong Jepara

Dalam hitungan menit, satu kendi berukuran sedang sudah selesai dari proses pembubutan.

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG/YUNANSETIAWAN
2. Sulastri (52) sedang melakukan proses pembubutan. Pembubutan merupakan proses mengubah gumpalan tanah liat menjadi kendi. 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Dalam hitungan menit, satu kendi berukuran sedang sudah selesai dari proses pembubutan.

Sulastri (52) lebih dari separuh umurnya di

Sulastri (52) menunjukkan kendi hasil buatannya. Wanita asal Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara iti sudah lebih 20 tahun menggeluti kerajinan gerabah.
Sulastri (52) menunjukkan kendi hasil buatannya. Wanita asal Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara iti sudah lebih 20 tahun menggeluti kerajinan gerabah. (TRIBUNJATENG/YUNANSETIAWAN)

habiskan menggeluti bisnis ini. Warga Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara itu bercerita ada bermacam-macam jenis kerajinan gerabah yang dibuat. Salah duanya kendi untuk ari-ari bayi dan kendi kecil untuk wadah sesaji.

Proses pembuatannya pun melewati beberapa tahap. Mulai dari pemadatan tanah liat, kemdian pembubutan, dilanjut penjemuran, dan diakhiri dengan pembakaran.

Apa yang disebut tahapa pembubutan itu adalah proses pengubahan gumpalan tanah liat menjadi kendi. Teknisnya gumpalan tanah itu diletakan di atas lingkaran papan. Kemuduan di bawah papan itu sudah tersambung tali kalar untuk memutar papan tersebut. 

Dan di depan papan itu, kaki kanan Sulastri menarik tali kalar, dua tangannya cekatan mengubah gumpalan tanah liat menjadi kendi.

Dia menerangkan selama ini penjualan kerajinan gerabag bergantung pada agen. Dia tidak perlu repot-repot memasarkan produk kerajinannya, tingga menunggu sang agen datang mengambil barang.

"Kalau agen ngambilnya 1000 barang itu dihargai Rp 1 juta," kata dia kepada Tribun Jateng.

Dari agen itu, lanjut dia, nanti kerajinan gerabah tersebut akan dipasarkan ke pelbagai kota tergantung daerah asal pemesan.

Sulastri mengakui dari pekerjaan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi saat ini dia sudah memiliki cucu. Sehingga pekerjaan tersebut juga bisa dilakukan sebagai aktivitas sehari-hari.

"Hanya sebagai sampingan, sembari momong cucu," kata dia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved