Universitas Nasional Karangturi
Babak Baru Kuliner di Masa Pandemi
Merintis bisnis yang prospektif juga bisa menjadi jalan keluar bagi kita yang saat ini secara finansial telah terimbas pandemi.
Oleh : Anoki Herdian Dito SE MM, Dosen S1 Manajemen Unkartur Semarang
EPISODE demi episode pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Kondisi yang sangat memberi dampak signifikan, tidak hanya masalah kesehatan melainkan juga turut mengguncang berbagai sektor industri dan bisnis dengan salah satu yang terdampak paling besar adalah usaha kuliner atau Food & Beverage (F&B).
Di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi ini, bukan berarti tidak tersisa peluang dan kesempatan sama sekali. Masih banyak peluang bisnis-bisnis baru yang bisa kita jajaki dan berpotensi menghasilkan keuntungan di tengah kondisi krisis.
Merintis bisnis yang prospektif juga bisa menjadi jalan keluar bagi kita yang saat ini secara finansial telah terimbas pandemi.
Bisnis kuliner adalah salah satu peluang usaha yang masih berpotensi mendatangkan pundi-pundi rupiah di masa pandemi Covid-19.
Dengan kata lain, kesempatan masih sangat terbuka untuk menjalankan bisnis pada sektor ini di tengah pandemi yang seakan tidak berujung, tetapi dengan catatan para pelaku usaha lebih kreatif dengan lebih memaksimalkan strategi pemasaran dan produk, terutama melalui online.
"Stop complaining, lebih baik segera dipikirkan solusinya. Berprioritaslah pada solusi, jangan kepada masalah," ungkap Nina Susilowati (Founder Komunitas Langsungenak) dalam Webinar “Adaptasi Bisnis Kuliner dengan Kebiasaan Baru” yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).
Untuk memulai sebuah bisnis kuliner di kondisi pandemi, kita harus pandai dalam beradaptasi serta membaca peluang pasar kuliner yang paling potensial dan sebisa mungkin efisien secara modal. Pertama dimulai dengan konsep produk yang akan kita tawarkan haruslah memiliki kekuatan, baik dari varian dan rasa.
Langkah selanjutnya kita harus memanfaatkan teknologi digital melalui berbagai macam platform digital gratis maupun berbayar untuk memasarkan produk kita. Semisal lewat Facebook, Instagram atau Tiktok yang bisa dikatakan paling banyak pengguna sampai saat ini. Kemudian yang terpenting merupakan salah satu langkah penting untuk menekan penularan dengan kontak secara langsung.
Dalam pembuatan konten promosinya pun sebaiknya kita menampilkan proses pembuatan sampai pada pengemasan produk yang sudah sesuai protokol kesehatan dari pemerintah. Semisal penggunaan handglove oleh para karyawan dan memakai vacuum pack untuk pengemasnnya.
Hal ini dilakukan untuk meyakinkan para calon pembeli bahwa produk yang kita jual benar-benar aman untuk dikonsumsi di masa pandemi. Jadi kita tidak semata-mata menjual produk saja tetapi tetap ada nilai edukasi yang kita tawarkan.
Jangan takut untuk memulai, karena keberanian adalah kunci utama dalam kita mencapai sesuatu yang besar.
Ketakutan atau keraguan merupakan hal yang sangat wajar pada saat kita memulai bisnis kuliner dalam kondisi seperti ini, tetapi jangan sampai akhirnya menjadi penghambat besar dan hanya berakhir sebagai wacana belaka.
Tidak perlu takut menghadapi penolakan di awal, tidak perlu berkecil hati apalagi malu.
Semua itu bagian awal untuk menjadikan usaha kita makin bisa diterima dan semakin berkembang dengan dimbangi komitmen yang tinggi, konsistensi, dan inovasi. (*)
Informasi lebih lanjut : Jl. Raden Patah No. 182-192, Semarang.
Telp. 024-3545882/08112710322 atau IG @universitasnasionalkarangturi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/oleh-anoki-herdian-dito-se-mm-dosen-s1-manajemen-unkartur-semarang.jpg)