Breaking News:

Berita Kudus

Harga Cabai Anjlok, Petani di Kudus Menjerit

Di Kabupaten Kudus sentra petani cabai berada di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo. Musim panen kali ini terdapat 50 hektare lahan penghasil cabai

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muslimah

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Para petani cabai di Kabupaten Kudus menjerit karena harga jual hasil panennya rendah. Per kilogramnya, cabai dari petani hanya laku paling tinggi Rp 7 ribu per kilogram.

Di Kabupaten Kudus sentra petani cabai berada di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo. Musim panen kali ini terdapat 50 hektare lahan yang menghasilkan cabai.

Satu di antara petani yang merasakan getah dari anjloknya harga cabai yakni Surahman. Rendahnya harga cabai dari petani mengakibatkan petani merugi.

Berdasarkan hitungannya, petani bisa sedikit bernapas lega ketika harga cabai dari petani laku minimal Rp 10 ribu per kilogram.

"Sekarang memprihatinkan. Soalnya lombok di bawah 10 ribu. Petani ongkos obat mahal segala mahal. Kami ingin campur tangan dari pemerintah. Lombok minimal Rp 10 ribu. Sekarang Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu," kata Surahman yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Karya Tani Kesambi, Jumat (30/7/2021).

Anjloknya harga cabai ini karena distribusi hasil panen dari Kudus ke luar daerah tersendat karena dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Selain itu, saat ini sedang musim panen cabai. Artinya, stok barang di pasaran melimpah. Kemudian, untuk kasus di Kudus ditambah adanya penutupan sejumlah pasar tiban.

"Pokoknya petani rugi sekali," tandas Surahman.

Apa yang menjadi keluhan para petani cabai ini telah didengar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Bupatinya, HM Hartopo, juga telah meninjau langsung para petani saat memanen cabai.

Mendapati keluhan tersebut, Hartopo memerintahkan suku dinas pertanian untuk melakukan terobosan dengan menggandeng pihak ketiga sebagai penyerap hasil panen cabai dari Kudus.

"Konek langsung dengan pihak ketiga. Tapi bagaimana pemerintah daerah memberikan akses kepada konsumen atau langsung user. Jadi harga minimal Rp 10 ribu walaupun ada patokan dari pemerintah Rp 12 ribu," kata Hartopo.

Kemudian, kata dia, solusi yang akan diupayakan selanjutnya yakni dengan cara mengeringkan cabai hasil panen. Harga cabai yang telah dikeringkan katanya bisa mencapai Rp 180 ribu perkilogramnya.

"10 kilogram cabai basah bisa jadi 1 kilogram. Harganya bisa sampai Rp 180 per kilogram," kata dia.

Pengeringan ini butuh sarana pendukung. Kalau dalam waktu dekat, dinilai masih belum bisa. Oleh sebab itu dia meminta Dinas Pertanian untuk memfasilitasi langkah tersebut.

"Akan difasilitasi Dinas Pertanian. Akan ada semacam diklat dalam pengeringan. Sementara ini terdekat adalah membantunya langsung ke user (konsumen)," kata dia.

Dalam kesempatan ini, Hartopo juga membeli cabai dari petani di Kesambi. Hartopo membelinya seharga Rp 12 ribu per kilogram. Artinya, Hartopo merogoh kocek Rp 2,4 juta untuk membeli cabai petani. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved