Breaking News:

Berita Fashion

Kenapa Ekspor Produk Halal Indonesia Kalah dari Brasil dan Australia? Ini Penyebabnya

Sebagai negara yang dikenal memiliki penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, Indonesia ternyata kalah dari Australia dan Brasil

Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
GREAT SALE - Beberapa pengunjung memadati pameran great sale kerajinan batik tenun di Gedung Pramuka kota Semarang, Sabtu (7/12/2013). Beberapa barang yang di tawarkan seperti, baju muslim, tas batik, dan jaket. Acara pameran tersebut berlangsung dari 6-8 Desember 2013. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Sebagai negara yang dikenal memiliki penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, Indonesia ternyata kalah dari Australia dan Brasil sebagai produsen produk halal. Padahal, penduduk muslim kedua negara itu kalah jauh dibandingkan dengan Indonesia.

Data Global Islamic Economic Report 2019 lalu memaparkan Brasil tercatat sebagai eksportir terbesar produk makanan dan minuman halal, yakni 5,5 miliar dollar AS, disusul Australia senilai 2,4 miliar dollar AS.

Sementara, Indonesia belum mampu mengoptimalkan potensi yang ada untuk meningkatkan industri produk halal di dalam negeri.

"Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan potensi tersebut di industri produk halal seperti Malaysia.

Namun ternyata kita belum mampu memanfaatkan potensi secara optimal seperti Malaysia, bahkan Brasil dengan Muslim minoritas, utamanya dalam menjadikan dirinya sebagai produsen makanan halal terbesar di dunia," kata Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, dalam Konferensi Ekonomi, Bisnis dan Keuangan Islam Nusantara, Rabu (28/7).

Jangankan menjadi eksportir produk halal, Indonesia justru menjadi konsumen terbesar produk halal dunia. Indonesia tercatat membelanjakan 173 miliar dollar AS, atau setara 12,6 persen dari pangsa pasar produk makanan halal dunia pada 2018. Angka itu menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar produk halal global dibandingkan dengan negara mayoritas muslim lain.

Ma'ruf menyayangkan mengapa sebagai negara mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia masih harus mengimpor produk makanan halal untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

"Jangankan sebagai produsen dan menjadi pemain global, untuk memenuhi kebutuhan makanan halal domestik saja kita masih harus impor," imbuhnya.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Wapres menuturkan, pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk kegiatan usaha syariah baik skala besar maupun kecil. Satu langkah konkretnya adalah dengan mengembangkan tiga kawasan industri halal.

Menurut dia, saat ini sudah dikembangkan dan ditetapkan tiga kawasan industri halal, yaitu Modern Cikande Industrial Estate di Serang, Banten; Safe n Lock Halal Industrial Park di Sidoarjo, Jawa Timur; dan Bintan Inti Halal Hub di Bintan, Kepulauan Riau.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved