Breaking News:

Smart Women

Aulia Serukan Kelestarian Alam ke Pelosok Indonesia, Pantang Surut demi Bumi Hijau

Sebagai aktivis lingkungan, Sabrina Aulia Nisa tak pernah berhenti menggalakkan kepedulian lingkungan, yang menurutnya. kini semakin rusak.

Penulis: budi susanto | Editor: moh anhar
Dokumentasi Pribadi
Sabrina Aulia Nisa 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Entah beberapa purnama sudah dilalui Sabrina Aulia Nisa (27) untuk menyuarakan gerakan penghijauan di penjuru Indonesia.

Sebagai aktivis lingkungan, ia tak pernah berhenti menggalakkan kepedulian lingkungan, yang menurutnya. kini semakin rusak.

Sejak 2012 lalu perempuan kelahiran Solo, 13 Desember 1993 silam, itu terjun ke organisasi pemerhati lingkungan, dan hilir mudik ke beberapa daerah.

Ketertarikannya terhadap lingkungan sudah terpupuk sejak di bangku SMP, lantaran ia sering membaca buku mengenai perubahan iklim yang terjadi di Indonesia.

“Dari situ saya jadi kepo (ingin tahu—Red) terkait pemanasan global, krisis air dan sebagainya. Oleh karena saya tinggal di daerah kecil yaitu Kabupaten Pekalongan, waktu itu tidak ada wadah untuk ikut menyuarakan kepedulian akan lingkungan,” ucap alumnus Psikologi, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jumat (30/7).

Baca juga: Jasa Raharja Beri Bantuan 101 Pohon Tabebuya ke Wali kota Hendi, Siap Ditanam di Kota Semarang

Baca juga: Stok Aman, Pemkot Tegal Sediakan 2.000 Vial Vaksin untuk Warga Luar Kota

Baca juga: Belok Mendadak, Mobil Hantam Motor di Kajen Pekalongan, Satu Orang Tewas

Dalam perjalanannya menempuh pendidikan tinggi di Kota Semarang, Aulia bergabung bersama penggiat lingkungan dari beberapa daerah untuk menggaungkan persoalan kelestarian alam.

“Saat bergabung bersama tekan-rekan, saya semakin tahu kalau lingkungan semakin rusak. Saya berpikir, kerusakan alam harus dihentikan dan dibutuhkan orang-orang berdedikasi tinggi yang concern dalam hal kelestarian lingkungan. Saya pun memutuskan untuk ikut menjadi bagian dari kelompok yang fokus pada kelestarian lingkungan,” jelasnya.

Sepengamatan Aulia, kondisi lingkungan secara umum di beberapa wialayah di Indonesia makin rusak lantaran ada oknum yang membuka karpet merah terhadap eksploitasi lingkungan sebesar-besarnya untuk keuntungan sesaat.

“Bukan regulasi atau UU lingkungan yang tidak berjalan dengan baik atau pelaksanaan pengawasannya yang kurang, melainkan ada oknum yang mengubah UU tersebut. Alhasil kontrol terhadap lingkungan jadi kurang. Misalnya, limbah batu bara dikeluarkan dari daftar UU lingkungan. Kebijakan itu membuat lingkungan semakin tak terjaga,” paparnya.

Perempuan berhijab itu mengaku sempat patah arang, saat menyaksikan masifnya kerusakan lingkungan di salah satu wilayah di Jateng.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved