Breaking News:

IDI Khawatir Temuan Delta Plus di Indonesia, Obat Antibodi Tak Mempan

varian Delta Plus mampu menurunkan bahkan membuat obat antibodi monoklonal untuk pasien terpapar covid-19 tidak lagi mempan.

Editor: Vito
(Shutterstock/angellodeco)
Ilustrasi varian virus corona Delta. Varian ini pertama kali diidentifikasi di India, sebelumnya dinamai B.1.617.2. Virus corona varian Delta. 

TRIBUNJATENG.CO, JAKARTA - Penyebaran virus corona hingga kini belum dapat dikendalikan, dengan lonjakan kasus baru mencapai 80 persen yang terjadi dalam kurun waktu sebulan terakhir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Hal itu disinyalir sebagai dampak dari covid-19 varian Delta yang disebut-sebut sangat mudah menular. Varian yang pertama kali terdeteksi di India itu kini telah muncul di 132 negara dan wilayah.

Bahkan, kini telah muncul varian baru mutasi dari Delta, yakni Delta Plus yang memiliki tingkat infeksi lebih tinggi, dan lebih dikhawatirkan dampaknya. Virus itupun sudah ditemukan di Indonesia.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban menyebut, sejumlah peneliti khawatir mutasi virus SARS-CoV-2 varian AY.1 alias varian Delta Plus mampu menurunkan bahkan membuat obat antibodi monoklonal untuk pasien terpapar covid-19 tidak lagi mempan.

Obat anti-monoklonal untuk covid-19 yang digunakan di Indonesia sejauh ini adalah Actemra (tocilizumab).

Zubairi menyebut, sejauh ini peneliti menempatkan varian AY.1 tak jauh beda dengan B1617.2 atau varian Delta sebelumnya, yang telah teridentifikasi di Indonesia dan sejumlah negara.

Kementerian Kesehatan per Kamis (29/7), mencatat sudah ada 948 varian Delta di Indonesia, dengan tiga di antaranya merupakan varian Delta Plus, di mana dua ditemukan di Jambi dan satu kasus lagi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

"Jadi varian Delta Plus ini dikhawatirkan nanti pasien-pasien yang diobati dengan obat antibodi monoklonal ini bisa tidak berhasil," katanya, dikutip CNNIndonesia.com, Sabtu (31/7).

Zubairi menuturkan, varian Delta Plus kemungkinan juga memiliki sifat mirip dengan varian Delta sebelumnya. Beberapa peneliti memiliki hipotesis bahwa varian Delta B1617.2 memiliki empat sifat yang menjadi kekhawatiran dunia.

Varian Delta disebut memiliki kemampuan penularan yang lebih cepat dan agresif, berpotensi lolos dari diagnosis tes PCR, menimbulkan gejala klinis yang tidak biasa, hingga kemungkinan berpotensi mampu meloloskan diri dari antibodi pascvaksinasi maupun antibodi para penyintas covid-19.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved