Breaking News:

Berita Karanganyar

Asosiasi Ecowisata Lawu Keluhkan Perpanjangan PPKM di Karanganyar: Tekanannya Lebih Berat

Pelaku usaha wisata di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar terpaksa harus kembali bersabar.

Penulis: Agus Iswadi | Editor: Daniel Ari Purnomo
istimewa
Situasi Wonder Park Tawangmangu Kabupaten Karanganyar sejak diberlakukannya PPKM darurat. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Pelaku usaha wisata di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar terpaksa harus kembali bersabar menyusul pemerintah secara resmi telah memperpanjang PPKM Level 4 hingga 9 Agustus 2021 mendatang.

Pemberlakukan PPKM darurat Jawa-Bali dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 telah berlangsung satu bulan.

Wakil Ketua Asosiasi Ecowisata Lawu, Parmin Sastro menyampaikan, kondisi saat ini lebih berat dibandingkan dengan pembatasan kegiatan pada awal pandemi.

"Sangat luar biasa, tekanannya lebih berat dibanding PSBB awal pandemi. Saat itu kita tutup 4 bulan tapi kan belum PPKM. Kita masih normal, setidaknya masih ada tabungan," katanya saat dihubungi Tribunjateng.com, Selasa (3/8/2021).

Dia menuturkan, kondisi pengunjung belum normal sejak diperbolehkan beroperasi kembali selama pandemi Covid-19. Di sisi lain libur lebaran dan tahun baru yang biasanya menjadi momen mendulang pemasukan ternyata juga tidak mengalami lonjakan signifikan karena adanya penyekatan.

"Kita menghibur diri masih harus bersabar dengan kebijakan ini. Jujur sangat berat dibandingkan dengan awal pandemi," ucapnya.

Parmin menjelaskan, pihaknya terpaksa mengatur jadwal masuk karyawan untuk dapat tetap bertahan di tengah kondisi seperti saat ini. Dia mencontohkan, semisal karyawan masuk sehari untuk perawatan destinasi wisata kemudian hari berikutnya libur. Tiga destinasi wisata dan satu resto di bawah grupnya yang berada di wilayah Tawangmangu, lanjut Parmin, ada sekitar 160-an karyawan.

"Kita komunikasikan kepada karyawan, otomatis tidak menerima gaji penuh tapi berdasarkan hari masuk," terangnya.

Menurutnya kasus Covid-19 di Karanganyar dinilai relatif terkendali. Dia berharap objek wisata diperbolehkan beroperasi kembali dengan pembatasan kapasitas. Apabila sebelumnya kapasitas pengunjung dibatasi 50 pesen, dikurangi menjadi 30 persen dari kondisi normal.

Dia mengungkapkan, dalam situasi seperti ini yang penting bisa mempertahankan hidup. Apabila pembatasan kegiatan di sektor pariwisata terus berlanjut tentu akan berdampak besar terhadap pelaku usaha pariwisata.

"Kita harus realistis juga, begitu. Kalau masih ada tabungan ya pakai tabungan. Kalau tidak punya ya jual aset. Kalau sudah tidak ada, ya mau tidak mau harus merumahkan karyawan," ungkapnya.

Terpisah Marketing Communication Nava Hotel Tawangmangu, Devi Susanti mengatakan, objek wisata yang saat ini masih tutup karena adanya PPKM turut berdampak terhadap tingkat okupansi.

"Satu bulan ini dampaknya sangat siginifikan. Okupansi 40 persen," paparnya.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Devi, terpaksa melakukan efisiensi baik itu dalam rangka promosi maupun penggunaan listrik.

"Sebenarnya kemarin itu mulai ada peningkatan. Itu dari perorangan. Karena ada pelonggaran. Tamu-tamu itu pun mereka tanya pariwisata di sekitar sini (Tawangmangu) buka nggak. Itu mempengaruhi," pungkasnya. (Ais).

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved