Breaking News:

Berita Salatiga

Kisah Mbah Simuh, 55 Tahun Bertahan Jadi Kusir Andong di Salatiga, Begini Kondisinya saat Pandemi

Satu dari puluhan kusir andong di Kota Salatiga yang masih bertahan adalah Simuh (57) atau akrab disapa Mbah Simuh

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: muslimah
TribunJateng.com/M Nafiul Haris
Seorang penarik dokar sedang menunggu pelanggan di sekitaran Alun-alun Salatiga, Selasa (3/8/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Meski tidak lagi populer menjadi alat transportasi utama, keberadaan para kusir andong atau delman masih banyak dijumpai di Kota Salatiga, terutama di dekat Alun-alun Pancasila dan Pasar Raya. 

Satu dari puluhan kusir andong di Kota Salatiga yang masih bertahan adalah Simuh (57) atau akrab disapa Mbah Simuh.

Dia mengaku tetap memilih profesi sebagai kusir lantaran hanya itu usaha satu-satunya. 

Mbah Simuh mengaku telah bekerja sebagai kusir andong sejak 1996 dari tarif jasa menaiki delman sekira 500 rupiah sampai sekarang Rp 25 ribu. 

"Ya kalau dihitung-hitung hampir 55 tahun ada. Saya bertahan meski sudah banyak angkutan umum, sekarang ojek online semakin modern. Tapi, ini usaha yang saya rintis sejak muda, itu alasannya," terangnya kepada Tribunjateng.com, di lokasi, Selasa (3/8/2021) 

Selain itu lanjutnya, berkat menjadi kusir andong pula ia dapat menyekolahkan tujuh orang anaknya. Sehingga, dirinya seringkali mengurungkan niatnya, untuk berpindah profesi. 

Dia menyatakan, dalam kondisi sulit ditambah dampak adanya pandemi virus Corona (Covid-19) memang mempengaruhi pendapatan.

Terlebih kata dia, konsumen andong sangat terbatas hanya orang-orang yang melakukan wisata ke Kota Salatiga

"Aslinya konsumen kami itu kelas menengah keatas, tapi pelaku wisata atau orang Jakarta yang memiliki saudara di Salatiga. Tapi, adanya PPKM ya sekarang sepi, jadi kami sering berpindah pangkalan," katanya

Mbah Simuh mengungkapkan, dalam sehari sebelum adanya pandemi Covid-19 dia dapat mengantongi uang Rp 150-200. Sekarang kata dia, mendapatkan hasil Rp 50 ribu mulai mangkal dari pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB sangat susah. 

Meski demikian, dirinya percaya apabila seseorang selalu berusaha dan tidak putus asa akan mendapatkan hasil yang setimpal. Karena itu, meski sedang sepi penumpang dia rutin mangkal. 

"Itu lah kenapa para kusir sering mencari pangkalan baru di pusat keramaian. Dari sarana transportasi umum bergeser ke transportasi wisata. Namun konsekuensi dari konsumen tertentu itu, tidak saban hari  ramai penumpang," ujarnya 

Terkait tarif lanjutnya, setiap penarik dokar memiliki ketentuan masing-masing bergantung jarak atau jauh dekatnya. Misalnya, ada yang penumpang dua orang dihargai Rp 25, jika lebih dinaikkan atau malah sama. (ris) 

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved