Breaking News:

Berita Kendal

Solar Langka di Kendal, Nelayan: Kami Melaut 3 Hari Sekali

Nelayan di Kabupaten Kendal kelimpungan menyikapi langkanya bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang terjadi dalam sepekan terakhir.

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Saiful Masum
Warga mengisi solar ke dalam jeriken di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kota Kendal, Kamis (5/8/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Nelayan di Kabupaten Kendal kelimpungan menyikapi langkanya bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang terjadi dalam sepekan terakhir. Di wilayah Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kota Kendal, nelayan harus mengantre sepanjang hari untuk mendapatkan jatah solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk nelayan. 

Selain panjangnya antrean, jatah solar yang didapat nelayan berukurang 60 persen dari 50 liter menjadi 20 liter sekali datang. Kondisi ini memaksa para nelayan tidak bisa melaut setiap hari karena alokasi solar yang tidak memadahi.

Nelayan Bandengan, Jumadi (40) mengatakan, kelangkaan solar sudah terjadi sepekan terakhir di tengah berjalannya PPKM level 4. Untuk mendapatkan solar, ia harus meluangkan waktu tidak melaut seharian penuh saat stok solar datang setiap 2 hari sekali.

Tidak hanya itu, jatah hanya 20 liter memaksa Jumadi harus mengantre lagi untuk mencukupi stok solar minimal 40 liter agar bisa melaut.

"Jatah awalnya  50 liter bisa melaut sehari sekali, karena sekali jalan minimal 40-50 liter solar. Harus antre dua kali, paling cepat 3 hari sekali melaut, kadang bisa 4 hari sekali melaut jadi susah," terangnya, Kamis (5/8/2021).

Nelayan lain, Mufaatib menambahkan, langkanya stok solar membuat penghasilan nelayan menurun drastis. Nelayan yang biasanya berpenghasilan setiap hari harus tertunda dengan keadaan, sementara kebutuhan keluarga terus mengalir setiap harinya.

"Selama 2021 ini sudah 4 kali terjadi kelangkaan solar. Kami susah karena tidak bisa melaut setiap hari. Tidak ada kerjaan lain, kebutuhan makan keluarga ikut siapa, jajan anak pakai apa. Semua dicukup-cukupin. Berbeda dengan nelayan kapal besar dapat jatah lebih banyak," tuturnya.

Nelayan lainnya, Jamal mengatakan, kelangkaan stok solar sangat berdampak pada penghasilan para nelayan. Katanya, ada beberapa nelayan yang nekat melaut dengan jatah solar 20 liter yang didapatkan setiap dua hari sekali. 

Namun, pendapatan nelayan akan menurun drastis karena intensitas 20 liter hanya cukup untuk melaut setengah hari. Belum mengahadapi musim dan cuaca di tengah laut yang menjadi permasalahan nelayan saat musim pancaroba. 

"Ada nelayan yang tetap melaut, tetapi setengah hari. Otomatis penghasilannya berkurang, dari biasanya penghasilan kotor Rp 500.000 - Rp 600.000, paling hanya Rp 100.000 - Rp 120.000. Sedih enggak semangat," jelasnya.

Petugas pelayanan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Bandengan, Maskuri mengatakan, pengurangan stok solar dari pusat sudah terjadi dalam sepekan terakhir.

Katanya, stok 16.000 liter biasanya datang setiap hari. Tetapi akhir-akhir ini hanya datang setiap dua hari sekali. Meski terjadi kelangkaan, Maskuri menyebut harga solar masih tetap sama di angka Rp 5.200 per liter.

"Sekarang datangnya dua hari sekali, memang dari sananya (pusat) ada pengurangan stok. Gak tahu langka atau gimana. Yang saya tahu, jatahnya berkurang seminggu ini," terangnya.

Selain dipenuhi kaum laki-laki, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bandengan juga terlihat perempuan-perempuan yang ikut mengantre solar. Mereka menggantikan peran suami untuk mendapatkan kebutuhan solar, sementara suaminya melaut mencari ikan. (Sam). 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved