Breaking News:

Berita Jepara

Resah dengan Pencemaran Limbah, Romi Kembangkan Tenun Troso dengan Pewarna Alami

Berawal dari kegelisahan melihat sungai di belakang rumah berwarna hitam pekat karena pencemaran limbah warna kain tenun, Ahmad Karomi (32)  mencari c

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: m nur huda

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Berawal dari kegelisahan melihat sungai di belakang rumah berwarna hitam pekat karena pencemaran limbah warna kain tenun, Ahmad Karomi (32)  mencari cara bagaimana mewarnai kain tenun tidak secara sintesis tapi alami.

Kemudian pemuda asal Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara itu mencari informasi terkait cara tersebut. 

Ia menemukan ada sekelompok pembatik di Kendal juga melakukan pewarnaan batik dengan cara yang alami. Ia pun belajar dari pembatik di sana.

Lambat laun ia bisa membuat pewarna kain tenun dengan memanfaatkan daun pohon mangga dan kulit pohon mahoni.

Baca juga: Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kunjungi UMKM Tenun Goyor Lokal Berstandar Internasional

"Sudah 4 tahun ini saya menekuni ini. Kira-kira sejak 2017," kata Romi kepada Tribun Jateng, Sabtu (7/8/2021).

Menurutnya, penjualan kain tenun Troso dengan pewarna alami memang susah.

Karena segmen peminatnya memang kecil. Tapi, kata dia, di samping itu nilai jualannya tetap memberikan keuntungan yang lumayan.

"Yang kecil Rp 100 ribu. Yang ukuran 60 cm Rp 350 ribu. kalau yang lebar 1 meter panjang 225 cm harganya Rp 850ribu," terangnya.

Romi menunjukkan kain tenun Troso dengan pewarna alami hasil kreativitasnya. Menurut proses pembuatan  satu lembar kain dengan pewarna alami itu menghabiskan waktu kurang lebih satu bulan.
Romi menunjukkan kain tenun Troso dengan pewarna alami hasil kreativitasnya. Menurut proses pembuatan  satu lembar kain dengan pewarna alami itu menghabiskan waktu kurang lebih satu bulan. (TRIBUNJATENG/YUNANSETIAWAN)

Ditanya terkait omzet penjualan, Romi tidak bisa memastikan jumlah pastinya. Pasalnya, penjualan produknya juga harus bersaing dengan kain tenun dengan pewarna sintetis. Tidak dipungkiri juga, banyak orang lebih memilih kain dengan pewarna sintetis. Karena dar segi kecerahan warna, pewarna sintetis lebih unggul.

Dia mengakui banyak tantangan menggunakan bahan pewarna alami. Selain persaingan jual, juga pada prosesnya. Satu lembar kain bisa menghabiskan waktu kurang lebih 1 bulan.  

Tidak seperti menggunakan pewarna sintesis yang tinggal campur, menggunakan pewarna alami harus mengumpulkan bahan-bahan warnanya. Kemudian baru diolah.

Dari kenekatannya memasarkan kain tenun troso dengan pewarna alami tak hanya mengundang pelanggan. Sejumlah mahasiswa dari kampus kesenian juga ada datang ke rumahnya untuk mengetahui proses pewarnaan kain tenun Troso dengan bahan alami.

"Ada yang dijadikan penelitian skiripsi dan tugas akhir kuliah," ujarnya.

Ha-hal yang membuat orang luar kota datang ke tempatnya untuk mengorek lebih dalam soal pewarna alami kain Tenun membuatnya bangga dan puas.(yun)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved