Breaking News:

Berita Jawa Tengah

Pantura Terancam Tenggelam, DPRD Jateng Minta Eksploitasi Air Bawah Tanah Dihentikan

Eksploitasi air bawah tanah diminta dihentikan. Tujuannya agar mengurangi laju penurunan permukaan tanah terutama di daerah pantura.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: moh anhar
Dok PKS Jateng
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso, meminta pemerintah provinsi untuk mengambil kebijakan guna menghentikan eksploitasi air bawah tanah.

Tujuannya agar mengurangi laju penurunan permukaan tanah terutama di daerah pantura.

"Jika eksploitasi air tanah tidak dihentikan maka sisi utara Jawa akan kehilangan banyak daratannya, pantura akan tenggelam. Pemerintah provinsi harus menyiapkan antisipasi atas hal tersebut," kata Hadi, dalam keterangannya, Minggu (8/8/2021).

Hadi menyampaikan bahwa para ahli memperkirakan permukaan laut akan naik 25 hingga 50 centimeter pada tahun 2050.

Kemudian pada tahun 2100, air laut akan menggenangi sebagian besar kota pesisir di Indonesia.

Baca juga: Bisnis Potong Rambutnya Turun Drastis saat Pandemi, Kini Feri Buka Jasa Home Servis

Baca juga: Mbah Yanah, Lansia Pemungut Sayur Bekas Asal Kramat Kabupaten Tegal, Akhirnya Dapat Bedah Rumah. 

Baca juga: Masih Banyak yang Menumpuk, Bansos Beras 10 Kilogram di Kudus Baru Sasar Empat Kecamatan

Baca juga: PPKM Level 3, Pemkab Kudus Bersikukuh Belum Izinkan PKL Balai Jagong Jualan

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menyatakan bahwa ini merupakan alarm bahaya atas pembangunan kawasan industri besar-besaran di pantura.

Bahkan di Kabupaten Pekalongan sedang disiapkan proyek swasta dengan plan Segitiga Emas Pekalongan.

"Ini merupakan alarm bahaya jika tidak diperhatikan dampak lingkungannya maka akan memperburuk kondisi permukaan di area pantura. Pantura tenggelam bukanlah bualan," lanjutnya.

Menurutnya, ada beberapa upaya yang mungkin dilakukan untuk mencegah masifnya penurunan permukaan tanah di beberapa titik rawan di Jawa Tengah.

Di antaranya adalah menggantikan eksploitasi air tanah dengan air permukaan saat ini melalui pembangunan dan optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum Regional (SPAMReg) Petanglong (Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan) untuk mengurangi penggunaan air tanah dangkal yang menyebabkan kuantitas sumber air di wilayah tersebut cenderung menurun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved