Breaking News:

Puisi

Puisi Mustofa Bisri Joni Ariadinata

puisi Mustofa Bisri Joni Ariadinata: Sore itu aku malu mengetuk pintu rumahmu. Maka aku menunggu waktu di bawah pohon jambu.

Penulis: iam | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUN JATENG/JAMAL A NASHR
KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam sebuah acara di Sam Poo Kong beberapa waktu lalu 

Puisi Mustofa Bisri Joni Ariadinata

TRIBUNJATENG.COM - Puisi Mustofa Bisri Joni Ariadinata:

Mustofa Bisri

Sore itu aku malu mengetuk pintu rumahmu.
Maka aku menunggu waktu di bawah pohon jambu.
Kulihat burung di ujung rimbun, bernyanyi-nyanyi
membangun sarang. Daun kuning gugur menepi,
angin yang sebentar lindap
lalu menjauh pergi.

Cuaca kering di luar pagar. Angin panas
mungkin bertiup dari pantai. Tapi di sini udara cukup teduh
untuk menghentikan dunia. Maka kuhitung-hitung
jumlah kerikil dari pandangan muskil, ---sambil menduga-duga,
bahwa di antara batu pelataran yang tertata,
ada tanah yang dibawa para santri dan kiai.

Lalu aku membaca alfatihah
untuk mereka.

Tapi siapakah itu, tiba-tiba senyum padaku,
lelaki bersarung yang merapikan sandal tetamu,
ia melambai ke langit lalu berkata: "Saya badal
yang bertugas menjaga sandal. Sebab setiap tamu
membawa tanah dari asal. Maka kubacakan shalawat
untuk mereka, agar jejaknya kelak membawa selamat
bagi sesama."

Tapi suara apakah itu, yang terdengar riuh di sana,
sekelebatan sayap berhamburan dari angkasa,
membuat pusaran cahaya. Lalu kulihat satu lelaki bersayap hinggap di dahan jambu, membelai burung
yang tengah bernyanyi.

Engkaukah malaikat
pembawa rahmat, bagi rumah yang
didatangi ummat?

Jendela rumahmu selalu terbuka, Abah Mustofa.
Kucium-cium aroma masakan berbagai rupa, denting piring,
dan senda-gurau gembira. Kuhirup-hirup aroma kopi,
serta lantunan doa, yang jelas terdengar
dari sana.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved