Pendidikan

Pengamat Upgris Semarang Sentil Orangtua Ngeluh Tetap Bayar SPP Anak Sekolah Online

Mereka ‘dirugikan’ karena anaknya belajar di rumah, tetapi mereka harus tetap membayar iuran sekolah, tentu ini tidak bisa dibenarkan.

Dokumentasi pribadi
Ngasbun Egar. 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Kekhawatiran masyarakat terkait nasib sekolah anak-anak di masa pandemi membuat beberapa lapis masyarakat mendadak mempunyai sikap untung rugi terhadap pendidikan jarak jauh yang selama ini dilakukan.

Pernyataan tersebut diungkapkan pengamat pendidikan dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr Ngasbun Egar saat acara webinar, Sabtu (14/8/2021).

Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberikan lampu hijau bagi daerah yang berada di level 1 hingga 3 untuk melaksanalan pembelajaran tatap muka.

Sementara, untuk daerah yang berstatus level 4 masih diminta melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

Ngasbun menyoroti dampak PJJ dari sudut pandang sosilogi pendidikan.

"Adanya sikap dan pandangan 'untung-rugi' ini menjadikan sebagian masyarakat melihat proses pendidikan, pada masa pandemi Covid-19, ketika anak-anak harus belajar di rumah, sebagai sesuatu yang merugikan," kata anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah ini.

Menurutnya, itu hal yang wajar jika pandangan tersebut tidak berorientasi ekonomi. Pasalnya, anak- anak tidak mendapatkan hak pendidikan secara optimal.

Maka ini sebagai pertanda orangtua harus memberikan perhatian yang lebih baik terhadap pendidikan anaknya.

"Tetapi jika orangtua berpandangan bahwa mereka ‘dirugikan’ karena anaknya belajar di rumah, tetapi mereka harus tetap membayar iuran sekolah, tentu ini tidak bisa dibenarkan," tegasnya.

Hal itu karena betapapun anaknya belajar dari rumah, tentu mereka tetap mendapatkan pendidikan, meskipun tidak bisa optimal.

Oleh karena itu, kata dia, sinergi antara keluarga atau orangtua, para pendidik di sekolah serta masyarakat menjadi penting di masa pandemi Covid-19.

"Harus disadari bahwa kondisi ini merupakan sesuatu yang tidak dikehendaki, tetapi ini harus disikapi bersama guna mendapatkan win- win solution," ujar Ngasbun.

Ia memberikan contoh solusi pengajaran untuk anak PAUD/ TK yakni perlu mengupayakan komunikasi intensif antara guru atau sekolah dengan orangtua melalui pertemuan-pertemuan virtual terjadwal untuk merumuskan bersama kegiatan belajar untuk anak-anak.

Atau merancang program bersama antara orangtua dan guru untuk kegiatan belajar anak.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved