Breaking News:

Berita Banjarnegara

Saat Lagu Indonesia Raya Berkumandang, Petani di Ladang pun Diminta Ikut Berdiri Tegap

Karena itu, Pemkab meminta masyarakat untuk menghentikan sejenak aktivitas mereka saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Khoirul Muzaki
Bendera merah putih di halaman kantor Bupati Banjarnegara 

TRIBUNJATENG.COM - Upacara peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus besok masih seperti tahun sebelumnya karena dalam nuansa Pandemi Covid 19.  Upacara hanya melibatkan tamu undangan terbatas untuk menghindari terjadinya kerumunan. 

Pemkab Banjarnegara pun memutuskan tidak menggelar upacara HUT RI di level sekolah, desa hingga kecamatan. Kecuali di halaman kantor Bupati Banjarnegara dengan peserta maksimal 40 orang. 

Meski tak sesemarak tahun-tahun lalu, masyarakat tetap wajib memperingatinya untuk menghormati Sang Saka merah putih yang diperjuangkan dengan tumpah darah pahlawan. 

Karena itu, Pemkab meminta masyarakat untuk menghentikan sejenak aktivitas mereka saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan. 

"Tujuannya untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan mencintai lagu kebangsaan, " kata Kabag Pemerintahan Setda Kabupaten Banjarnegara Andri Mukti Sasongko, Senin (16/8/2021) 

Pihaknya telah berkirim surat ke pemerintah kelurahan atau desa untuk menyosialisasikan ajakan tersebut ke masyarakat. 

Pemerintah Desa/kelurahan diharapkan bisa meneruskan sosialisasi itu ke warganya. Masyarakat diajak, pada tepat pukul 10.17 Wib untuk menghentikan sejenak segala aktivitasnya. 

Di waktu itu, warga diimbau mengambil posisi berdiri tegap dengan sikap sempurna selama 3 menit, atau sampai Pukul 10.17 Wib.  Ini berlaku bagi setiap warga, dimanapun berada, tidak terkecuali petani yang sedang beraktivitas di ladang pada waktu tersebut. 

"Selama tiga menit berdiri tegap posisi sempurna, bisa sambil mengumandangkan lagu Indonesia Raya, atau diam sejenak, " katanya

Untuk memasifkan sosialisasi itu, pihaknya juga berkirim surat ke pemerintah kecamatan. Takmir masjid atau musala yang memiliki pengeras suara, serta Puskesmas diminta untuk membunyikan sirine atau suara penanda lainnya pada tiga menit detik-detik proklamasi. 

Ini sebagai penanda atau pengingat agar warga bisa lekas mengambil posisi untuk berdiri tegap saat detik-detik proklamasi. 

Generasi yang tinggal menikmati manisnya kemerdekaan tentu tidak akan keberatan dengan imbauan itu. 

Hanya berdiri tegap dan menghentikan sejenak aktivitas selama tiga menit, tentu tidak sebanding dengan perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa raga untuk merebut kemerdekaan.  (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved