Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mangkunegara IX Meninggal

BERITA LENGKAP : Prosesi Pemakaman Jenazah KGPAA Mangkunegara IX

Jenazah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX sudah dimakamkan di Astana Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar, Minggu (15/8)

Penulis: Agus Iswadi | Editor: Catur waskito Edy
TribunSolo.com/Fristin Intan
Putra KGPAA Mangkunegara IX, GPH Paundrakarna Sukma Putra, dan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR -- Jenazah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX sudah dimakamkan di Astana Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar, Minggu (15/8).

Dengan mangkatnya KGPAA Mangkunegara IX atau Gusti Jiwo, siapa yang jadi penerusnya pun jadi pertanyaan. Mengenai hal itu, putra KGPAA Mangkunegara IX, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara menyampaikan, kondisi saat ini bagi Pura Mangkunegaran ibarat hari tenang.

Menurutnya, pihak keluarga akan menggelar rapat terlebih dahulu mengenai siapa yang akan jumeneng. Namun siapapun penggantinya, Paundra mengatakan, pastinya berharap yang terbaik bagi Pura Mangkunegaran.

"Siapa yang jumeneng kita berharap yang terbaik untuk Pura Mangkunegaran.

Meneruskan konsep tradisi budaya dan kelangsungan hidup Pura Mangkunegaran. Khususnya kesejahteraan para abdi dalem, keluarga kerabat dan semuanya.

"Siapapun itu nanti, itu dirapatkan. Rapat akbar, keluarga besar. Ini ibarat biar hari tenang dulu," ucapnya.

Sementara ditanya mengenai pesan khusus sang ayah padanya, Paundra megnatakan bila KGPAA Mangkunegara berpesan agar ia tidak main-main soal pernikahan.

GPH Paundra ingat betul pesan dari ayahnya yang semasa hidup merupakan sosok humoris.

"Saya ingat pesan beliau, Ndra kalau misal kamu nikah lihat pengalaman. Kamu kalau nikah menghidupi anak orang, ojo main-main kowe," kata Paundra menirukan pesan ayahnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan bila hubungannya dengan sang ayah aga berjarak sekitar satu tahun terakhir. Menurutnya, hal itu dikarenakan ia tengah fokus menekuni batik bersama Batik Keris.

Di sisi lain, Pemakaman KGPAA Mangkunegara IX dilangsungkan secara tertutup dan dihadiri pihak keluarga serta kerabat saja.

Gusti Jiwo dimakamkan di komplek makam penguasa Mangkunegaran yang terletak di Astana Girilayu Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar.

Hanya pihak keluarga dan beberapa orang yang diizinkan pihak Pura Mangkunegaran yang bisa mengikuti prosesi pemakaman.

Jenazah KGPAA Mangkunegara IX tiba di Astana Girilayu sekitar pukul 11.30. Peti jenazah Gusti Jiwo dibawa dari Pura Mangkunegaran menuju Astana Girilayu menggunakan ambulance milik Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).

Peti jenazah dengan hiasan bunga kuning gading dan biru itu diusung delapan abdi dalem. Sedangkan dua orang petugas membawa foto KGPAA Mangkunegara IX dan karangan bunga.

Di belakang jenazah, tampak putra-putri Mangkunegara IX, GRA Ancillasura Sudjiwo, GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo kemudian menyusul GPH Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara, dan GRA Putri Agung Suniwati.

Sebelum dibawa menuju ke komplek makam, dilakukan prosesi serah terima jenazah oleh Wedhono Satrio, KRMT Lilik Priharso Tirtodiningrat kepada Juru Kunci Astana Girilayu, Hadi S.

Sementara para pelayat tampak menunggu di area pintu masuk Astana Girilayu. Petugas makam dibantu anggota kepolisian berjaga di pintu masuk.

Pusara KGPAA Mangkunegara IX di sisi timur makam ayahnya, KGPAA Mangkunegara VIII.

Selain itu, jenazah KGPAA Mangkunegara IX dimakamkan dengan mengenakan pakaian kebesaran. Hal tersebut mengikuti aturan leluhur terdahulu karena KGPAA Mangkunegara IX merupakan keturunan trah Mataram.

Ketua Himpunan Kerabat Mangkunegaran, Satyotomo menerangkan, akan lain lagi bisa yang bersangkutan mundur sebagai seorang Mangkunegara lalu mengangkat putranya sebagai pengganti.

Maka ia meninggal dunia bukan sebagai Mangkunegara, namun kembali ke nama kecilnya, Sudjiwo.

"Prosesi pemakaman kenapa jenazahnya tidak dikafani itu ada aturannya. Zaman Sultan Agung dibuat, seorang raja keturunan Mataram itu (wafat, red) harus memakai pakaian kebesaran.

Kecuali ini misalnya kalau beliau mundur sebagai seorang Mangkunegara dan mengangkat putranya sebagai Mangkunegara berikutnya. Lalu dia sudah menjadi Sudjiwo (nama kecil, red) kembali bukan sebagai Mangkunegara itu dimakamkan secara Islam dengan kain kafan.

Tapi dia sebagai seorang Mangkunegara wafatnya dia harus mengikuti aturan leluhurnya," jelas dia.

Menurut Setyotomo, aturan memakai pakaian kebesaran tidak hanya berlaku untuk penguasa Pura Mangkunegaran Solo yang meninggal dunia.

Akan tetapi, semua raja trah Mataram baik yang ada di Solo maupun Yogyakarta meninggal dunia juga harus mengikuti aturan tersebut.

"Saya kira bukan hanya Mangkunegara trah Mataram Solo dan Yogya semua mengikuti aturan itu," lanjutnya.

Sebelumnya, KGPAA Mangkunegara IX meninggal dunia karena sakit jantung di Jakarta pada Jumat (13/8) pukul 02.50 WIB.

Jenazah kemudian dibawa ke Solo melalui perjalanan darat. Jenazah KGPAA Mangkunegara IX disemayamkan selama tiga hari dua malam di Kagungan Dalem Ageng Pura Mangkunegaran. (ais/kps)

Baca juga: Tanpa Messi, Tak Masalah! Kami Punya Braithwaite

Baca juga: Muhyiddin Yassin Mundur dan Menjadi Pemimpin Tersingkat Malaysia

Baca juga: Negara Ini Pertama Kali Menyatakan Siap Memperkuat Hubungan dengan Penguasa Baru Afghanistan

Baca juga: Strategi Dosen Unika Memperoleh Dana Hibah Buku Ajar Kemendikbudristek

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved