Breaking News:

Penanganan Corona

Penyebab PCR di Indonesia Mahal dan Bagaimana Cara Membuatnya Jadi Murah

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Aryati menjelaskan, mahalnya tarif PCR di Indonesia.

Editor: rival al manaf

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum Perhimpunan Dokter Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Aryati menjelaskan, mahalnya tarif PCR di Indonesia bukan dikarenakan laboratorium yang membuatnya menjadi mahal, tetapi ada berbagai faktor penyebab.

Salah satunya dari harga alat dan bahan baku tes PCR.

Perlu diketahui reagen ekstrasi dan bahan-bahan lain yang dipergunakan untuk tes PCR itu bisa sekali pakai.

Oleh karena itu, perlu ada regulasi tepat yang mengatur pengenaan pajak atau subsidi untuk komponen-komponen tes PCR.

Baca juga: Alasan Kenapa Presiden Jokowi Minta Harga Tes PCR Maksimal Rp 550 Ribu

Baca juga: Daftar Komponen & Alasan Harga Tes PCR Indonesia Jauh Lebih Mahal dari India 

Baca juga: Fokus : Suara Netizen dan PCR Murah India

Baca juga: Presiden Turunkan Harga Tes PCR, Perhimpunan Rumah Sakit: Pertimbangkan Juga Biaya Operasional

"Pemerintah sebaiknya mengelola dengan baik harga PCR dengan cara mengendalikan harga reagen ekstraksi dan PCR serta bahan habis pakai, dengan cara melakukan mekanisme subsidi atau penghapusan pajak yang benar-benar terukur dan dihitung pemerintah dengan baik," jelas Aryati kepada Kompas.com, Senin (16/8/2021).

Hal senada juga diungkapkan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Menurutnya, saat ini Indonesia masih terkendala karena impor.

"Karena tes PCR kita masih impor ya termasuk bahan bakunya juga, sebagian besar juga impor," kata Nadia, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/8/2021).

Sementara itu, menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama, murahnya harga tes PCR di India, salah satunya karena pemerintah setempat memberikan subsidi dan jumlah petugas laboratorium yang cukup banyak.

"Banyak juga dibicarakan tentang lebih murahnya bahan baku untuk industri dan juga mungkin ketersediaan tenaga kerja yang besar jumlahnya," ucapnya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved