Berita Internasional

Taliban Disebut Mulai Buru Warga Afghanistan yang Bekerja untuk AS dan Sekutunya: Ancamannya Jelas!

"Saat ini terdapat cukup banyak individu yang diburu oleh Taliban. Ancamannya jelas," kata Christian

AP PHOTO/TARIQ ACHAKZAI
Dalam file foto 14 Juli 2021 ini, para pendukung Taliban membawa bendera putih tanda tangan mereka setelah Taliban mengatakan mereka merebut kota perbatasan Afghanistan Spin Boldaka di seberang kota Chaman, Pakistan. AP PHOTO/TARIQ ACHAKZAI 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Taliban dikabarkan mulai memburu warga Afghanistan yang pernah bekerja bagi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, maupun pemerintahan sebelumnya.

Sebelumnya, kelompok itu berjanji memberikan amnesti kepada siapa pun yang pernah melawan mereka.

Tak lama setelah janji itu diucapkan, muncul laporan milisi menembaki perempuan dan anak-anak yang berkerumun di bandara Kabul.

Baca juga: Ini Dia Salima Mazari, Gubernur Wanita Pertama Afghanistan yang Ditangkap Taliban

Dalam laporan yang dipublikasikan oleh New York Times, pemberontak mulai mengincar kolaborator AS, Inggris, dan NATO hingga ke rumah mereka.

Laporan itu diberikan kepada PBB oleh kelompok penyedia data intelijen RHIPTO Norwegian Center for Global Analyses.

"Saat ini terdapat cukup banyak individu yang diburu oleh Taliban.

Ancamannya jelas," kata Christian Nellemann, selaku kepala RHIPTO.

"Dituliskan bahwa kecuali mereka menyerahkan diri, Taliban akan menangkap, menginterogasi, dan menghukum keluarga mereka," jelasnya.

Gambar yang diambil dari televisi Al-Jazeera yang berbasis di Qatar pada Senin (16/8/2021), menunjukkan Anggota Taliban mengambil alih istana kepresidenan di Kabul, setelah presiden Afghanistan terbang ke luar negeri.
Gambar yang diambil dari televisi Al-Jazeera yang berbasis di Qatar pada Senin (16/8/2021), menunjukkan Anggota Taliban mengambil alih istana kepresidenan di Kabul, setelah presiden Afghanistan terbang ke luar negeri. (AL JAZEERA / AFP)

Dilansir BBC Kamis (19/8/2021), Nellemann memeringatkan mereka yang berada dalam daftar buruan pemberontak terancam mengalami eksekusi massal.

Selain itu seperti dikutip Daily Mail, terdapat surat bertanggal 16 Agustus dari pemberontak kepada pejabat kontra-terorisme Afghanistan.

Surat itu memerintahkan si pejabat untuk melapor kepada "Komisi Militer dan Intelijen Emir Islam Afghanistan" di Kabul.

 
Jika si pejabat yang bekerja untuk negara Barat itu tak menyerahkan diri, maka keluarganya akan diperlakukan "sesuai dengan hukum Islam".

Kepada The Telegraph, pejabat pemerintahan sebelumnya mengungkapkan mereka terpaksa menyembunyikan diri.

Pejabat tersebut mengaku mereka takut bakal ditemukan pemberontak, yang diduga sudah mendapatkan akses ke pusat data pemerintahan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved