Breaking News:

Kesehatan

Cara Mengalihkan Perhatian Anak dari Bahaya Mengkonsumsi Junk Food

JUNK food biasanya memiliki karakteristik sebagai makanan dengan bentuk dan warna yang menarik. Hal ini tentu memicu minat nafsu makan anak.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: Daniel Ari Purnomo
Dokumentasi pribadi
dr Domiko Widyanto SpA, Dokter Spesialis Anak 

dr Domiko Widyanto SpA

Dokter Spesialis Anak

JUNK food biasanya memiliki karakteristik sebagai makanan dengan bentuk dan warna yang menarik. Hal ini tentu memicu minat nafsu makan anak.

Salah satu cara memicu nafsu makan anak memang dengan memberikan makanan-makanan yang dikemas unik, warna menarik, dan rasa lezat. Sayang, semua itu ada pada junk food.

Junk food bisa lebih lezat dari makanan pada umumnya karena mengandung kadar gula, garam, dan natrium yang tinggi. Wajar, jika anak-anak tertarik.

Junk food merupakan makanan dengan kadar gizi rendah, namun tinggi kalori. Saat ini makanan cepat saji (fast food) dan junk food memang agak susah dibedakan. Akan tetapi, junk food biasanya memiliki kadar gula, karbohidrat, dan natrium yang lebih tinggi dari makanan biasanya. Contoh, seperti pizza, pasta, ayam kentaki, popcorn, kentang goreng, donat, dan masih banyak lainnya.

Lalu, kenapa junk food dikatakan sebagai makanan dengan kadar gizi rendah? Sejatinya makanan harus mengandung empat sehat lima sempurna. Mulai dari jumlah karbohidrat, protein, lemak, serat, vitaminnya harus terukur lengkap. Di junk food, semuanya minim. Junk food hanya makanan dengan kadar kalori dan lemak jenuh yang tinggi, sedangkan protein, serat, dan vitaminnya kurang.

Junk food memang dapat membuat anak ketagihan. Arti ketagihan ini sendiri adalah membuat anak jadi lebih suka. Bukan ketagihan karena adanya zat adiktif. Namun, junk food ini dapat membuat kecenderungan anak jadi lebih suka. Anak bisa lebih suka junk food daripada makanan-makanan yang dimasak oranguanya.

Sebetulnya, junk food ini harus dihindari dari anak. Orang tua, kalau bisa, tidak perlu mengenalkan junk food kepada anaknya.

Tidak ada ukuran pasti mengenai seberapa boleh junk food dikonsumsi anak. Sebab, dalam sejumlah riset, mengonsumsi junk food seminggu sekali pun dapat memicu risiko. Waktu seminggu tidak bisa dijadikan acuan. Sejauh ini memang tidak ada patokannya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved