Breaking News:

PPKM Level 3

Jokowi Ingatkan soal Keseimbangan, BI Pun Antisipasi Kenaikan Inflasi di Tengah Kondisi Pandemi

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyampaikan, perlu langkah antisipatif menjaga tingkat inflasi 2022. Ia menilai, kondisi pandemi covid-19

Editor: Catur waskito Edy
Screenshot YouTube Sekretariat Presiden
Presiden Jokowi. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyampaikan, perlu langkah antisipatif menjaga tingkat inflasi 2022. Ia menilai, kondisi pandemi covid-19 saat ini penuh ketidakpastian dan harus disikapi secara cermat.

"Risiko kenaikan inflasi pada tahun 2022 perlu kita antisipasi. Ini menyusul naiknya permintaan domestik dan kenaikan harga komoditas dunia," ujarnya, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2021, Rabu (25/8).

BI memperkirakan tingkat inflasi nasional pada 2021 dan 2022 akan tetap terjaga di kisaran 3 persen hingga 1 persen. Sementara, posisi inflasi hingga Juli 2021 di seluruh daerah maupun secara nasional masih terkendali.

Perry menjelaskan, capaian ini sejalan terjaganya ekspektasi inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah, belum kuatnya permintaan, serta ketersediaan pasokan. "Inflasi tahun ini per Juli tercatat terjaga rendah di angka 1,52 persen year on year (yoy)," ujarnya.

BI juga berkomitmen memperkuat peran UMKM pangan dalam struktur perekonomian nasional, sekaligus meningkat kesejahteraan masyarakat. “Seluruh kebijakan Bank Indonesia kami arahkan untuk pertumbuhan pro growth,” imbuhnya.

BI juga mengapresiasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Tim Pengendalian Inflasi Pusat, para menteri, gubernur dan bupati/wali kota atas sinergi yang erat dalam mewujudkan stabilitas harga. "Sinergitas ini mendukung upaya pemulihan ekonomi Indonesia dan menjaga kesejahteraan rakyat," jelas Perry.

Menurut dia, penguatan peran UMKM pangan dalam ekosistem ekonomi secara terintegrasi menjadi penting. Ia berharap UMKM pangan dapat terus beradaptasi dengan teknologi digital. "Dari hulu hingga hilir, termasuk akses pasar yang lebih luas bagi UMKM pangan. Kami di Bank Desa berkomitmen penuh untuk bersinergi dengan pemerintah," tukasnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, tingkat inflasi kuartal II/2021 sebesar 1,52 persen yoy masih jauh di bawah target. "Angka inflasi itu jauh di bawah target inflasi 2021, yaitu 3 persen," katanya, saat membuka Rakornas Pengendalian Inflasi 2021, Rabu (25/8).

Ia menilai, inflasi yang terlampau rendah juga bukan hal yang diinginkan pemerintah. Hal itu karena mencerminkan turunnya daya beli masyarakat, terlebih di situasi pandemi covid-19. "Kita juga tahu bawah inflasi rendah bukan hal yang menggembirakan. Karena bisa mengindikasikan turunnya daya beli masyarakat akibat pembatasan mobilitas," terangnya.

Gas dan rem

Jokowi menekankan agar kuartal III/2021 harus diwaspadai dan penuh kehati-hati. "Mengatur keseimbangan kesehatan dan ekonomi, gas dan rem. Pengendalian covid-19, masyarakat rentan harus dilindungi. Daya beli masyarakat didorong meningkatkan sisi demand," tuturnya.

Menurut dia, sektor daya beli masyarakat menjadi kunci utama agar dapat menggerakkan mesin pertumbuhan ekonomi. Kepala negara menugaskan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Ia menyebut, harga pangan yang stabil sangat penting untuk rakyat di masa pandemi covid-19.

"Beberapa hal ini agar menjadi perhatian TPIP dan juga TPID. Kalau ada hambatan, segera selesaikan hambatan tersebut. Ini perlu kita kerja di lapangan baik itu produksi maupun distribusi," tandasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat inflasi pada Juli 2021 sebesar 0,08 persen. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, inflasi 0,08 persen terjadi karena beberapa komoditas mengalami kenaikan harga seperti cabai rawit, sapi, cabai merah, tomat, bawang merah, dan udang beku. "Komoditas yang memberikan andil ke inflasi berasal dari cabai rawit 0,03, dan komoditas lain," paparnya.

Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di 61 kota dari 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), dan 29 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sorong sebesar 1,51 persen dan inflasi terendah di Sampit 0,01 persen.
Sementara, deflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar minus 0,6 persen, dan deflasi terendah di Maumere serta Samarinda 0,01 persen. (Tribun Network/nas/yat)

Baca juga: Kolaborasi Fintech dengan Perbankan Meningkat, Fintech Kian Gencar Lakukan Kolaborasi

Baca juga: Jadwal TV Televisi Hari Ini Kamis 26 Agustus 2021 di Trans TV RCTI Trans7 GTV SCTV dan Lainnya

Baca juga: Kapolda Sumsel Dicopot dari Jabatannya, Diduga Buntut Sumbangan Fiktif Keluarga Akidi Tio

Baca juga: BERITA LENGKAP : Drawing Liga Champions 2021/2022, Potensi Grup Neraka Hari Ini

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved