Breaking News:

Rusia dan China Bersatu Lindungi Afghanistan

pemimpin Rusia dan China sepakat untuk bekerja sama melindungi Afghanistan dari intervensi asing.

Editor: Vito
RTA TV / AFP
ilustrasi - Sebuah video yang diambil dari RTA TV Afghanistan menunjukkan gambar propaganda Pasukan Khusus Badri 313 Taliban berpatroli di jalan-jalan di lokasi yang tidak dikenal di Afghanistan. 

TRIBUNJATENG.COM - Bertemu pada Rabu (25/8), pemimpin Rusia dan China sepakat untuk bekerja sama melindungi Afghanistan dari intervensi asing.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping saling bertukar pandangan melalui telepon, satu hari setelah kelompok G7 melakukan pertemuan untuk membahas sikap atas Afghanistan.

Dilansir Reuters dari China Daily, Xi menegaskan kembali posisi China yang tidak akan ikut campur dan selalu menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Afghanistan.

Xi mendesak semua pihak di Afghanistan untuk segera membangun kerangka kerja politik yang terbuka dan inklusif, serta menerapkan kebijakan yang moderat dan stabil, termasuk memutuskan hubungan dengan semua kelompok teroris.

Sejalan dengan itu, Putin berkata kepada Xi bahwa Rusia siap bekerja sama dengan China untuk mencegah pasukan asing mengganggu dan menghancurkan Afghanistan.

Putin juga menegaskan siap bekerja sama dengan China untuk memerangi terorisme dan penyelundupan obat-obatan terlarang di tengah situasi keamanan Afghanistan yang tidak menentu.

Langkah China dan Rusia itu terkait dengan tenggat waktu evakuasi warga AS dan sekutunya dari Afghanistan, menyusul penguasaan negara itu oleh Taliban lebih dari sepekan.

Lebih dari 82.000 orang telah diangkut menggunakan pesawat dari Kabul, setelah kota itu jatuh ke tangan Taliban 10 hari lalu. Sejumlah negara bergegas mengevakuasi warga mereka serta orang-orang Afghanistan sebelum tenggat pada 31 Agustus.

Menurut Departemen Pertahanan AS, ada sekitar 10.000 orang sedang menunggu dievakuasi dari Kabul menggunakan pesawat-pesawat AS. Dikhawatirkan masih ada ribuan orang Afghanistan yang ingin meninggalkan negara mereka, namun tidak bisa mencapai bandara.

Taliban menolak memperpanjang tenggat tersebut, namun berjanji mengizinkan warga asing dan warga Afghan untuk meninggalkan negara itu setelah 31 Agustus, menurut Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken.

“Biarkan saya menjelaskan tentang ini. Tidak ada tenggat waktu pada pekerjaan kami. Taliban telah membuat komitmen publik dan swasta untuk menyediakan dan mengizinkan perjalanan yang aman bagi orang Amerika, bagi warga negara ketiga dan warga Afghanistan yang berisiko melewati 31 Agustus,” jelasnya.

Diplomat top AS itu menyatakan, Washington dan sekutu globalnya akan melakukan segala yang mereka bisa untuk menekan Taliban agar mengizinkan keberangkatan setelah penarikan.  (Kontan.co.id/Kompas.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved