Breaking News:

Taliban Minta Rusia Bantu Kelola SDA Afghanistan

negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan itu memiliki cadangan mineral senilai hampir 1 triliun dollar AS.

Editor: Vito
AP PHOTO/RAHMAT GUL
ilustrasi - Anggota Taliban memasang bendera kelompok mereka 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Taliban dilaporkan meminta Rusia membantu mengelola sumber daya alam (SDA) Afghanistan yang baru-baru ini jatuh ke tangan kekuasaan kelompok itu.

Duta Besar Rusia di Kabul, Dmitry Zhirnov, mengatakan Taliban membuka peluang bagi partisipasi negaranya untuk mengembangkan SDA Afghanistan.

"Taliban membuka peluang bagi partisipasi kami di Afghanistan (dalam membangun) perekonomian, termasuk mengembangkan sumber daya alam," kata Zhirnov, kepada saluran YouTube Soloviev Live, menurut laporan kantor berita TASS via Reuters, Rabu (25/8).

Afghanistan merupakan satu negara miskin di Asia Selatan. Namun, negara itu sebenarnya memiliki SDA seperti mineral yang melimpah.

Pada 2010, pejabat militer dan ahli geologi AS mengungkap bahwa negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan itu memiliki cadangan mineral senilai hampir 1 triliun dollar AS.

Cadangan mineral yang berada di tanah Afghanistan berupa besi, tembaga, emas, dan mineral tanah jarang yang tersebar di seluruh provinsi.

Namun, yang paling utama adalah Afghanistan memiliki cadangan lithium terbesar di dunia.

Seperti diketahui, lithium adalah komponen penting baterai dan teknologi lain yang saat ini masih langka.

Permintaan logam seperti lithium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodymium, mulai melonjak.

Hal itu terjadi ketika negara-negara mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi bersih lain, untuk memangkas emisi karbon.

Saat ini, tiga negara penyumbang terbesar mineral tersebut adalah China, Kongo, dan Australia. Tiga negara itu berkontribusi sekitar 75 persen dari produksi global lithium, kobalt, dan tanah jarang.

Pemerintah AS memperkirakan cadangan lithium di Afghanistan bisa menyaingi Bolivia, yang merupakan pemilik terbesar cadangan lithium di dunia.

"Afghanistan merupakan salah satu wilayah yang kaya akan logam mulia konvensional, dan juga logam yang dibutuhkan untuk ekonomi abad ke-21," ujar ilmuwan dan pakar keamanan pendiri Ecological Futures Group Rod Schoonover seperti dikutip CNN.

Namun, Schoonover memprediksi, kondisi tersebut tidak akan segera berubah di bawah kendali Taliban.

Satu tantangannya mengelola SDA Afghanistan adalah faktor keamanan, kekurangan infrastruktur, dan kekeringan parah. (CNNIndonesia.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved