Breaking News:

Sentimen dari AS bakal Memberatkan IHSG Pekan Ini

Jika The Fed cenderung dovish, ada potensi IHSG bergerak menguat. Namun, secara teknikal, IHSG masih akan sideways

Editor: Vito
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ilustrasi - IHSG 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan BEI Jumat (27/8) lalu ditutup pada zona merah, atau berada di level 6.041,36.

Namun secara keseluruhan selama sepekan lalu, IHSG mengalami peningkatan 0,18 persen dari posisi 6.030,77 pada penutupan akhir pekan sebelumnya.

Analis Erdhika Elit Sekuritas, Ivan Kasulthan menyatakan, sentimen selama pekan lalu sebenarnya relatif sepi dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

Namun, pada awal pekan lalu, ada sentimen positif, yakni pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan kembali melakukan burden sharing dengan tujuan penanganan pandemi covid-19.

BI berencana membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan, sekaligus menanggung biayanya. Harapannya, langkah itu dapat membantu mengangkat pertumbuhan ekonomi.

Namun, di sisi lain, pekan lalu pelaku pasar cenderung memperhatikan sentimen dari luar negeri, yaitu dari Amerika Serikat (AS) oleh bank sentral The Fed yang akan mengumumkan simposium tahunan.

The Fed berencana melakukan tapering seiring dengan tercapainya tingkat inflasi tahun ini. Langkah itu diperlukan, agar dapat mengatur laju tingkat inflasi yang terlalu tinggi.

"Efeknya akan berdampak terhadap emerging market, termasuk Indonesia, yang menyebabkan akan adanya capital outflow di Indonesia," jelasnya, kepada Kontan, Jumat (27/8).

Dengan adanya tapering, harga obligasi menjadi turun, dan dapat mengerek tingkat yield dari obligasi tersebut. Sehingga, investor lebih tertarik untuk berinvestasi ke AS.

Hasil simposium The Fed yang diperkirakan baru akan direspons awal pekan ini, menjadi satu sentimen yang berpotensi memberatkan pergerakan IHSG.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved