Breaking News:

Fesyen Muslim

Bisnis Fesyen Muslim tak Terdampak Pandemi, Ini Penyebabnya

Kondisi pandemi covid-19 tidak menyurutkan niat masyarakat memenuhi kebutuhannya terhadap produk fesyen muslim.

Editor: Catur waskito Edy
TRIBUN JATENG/RIVAL AL MANAF
Karyawan Pand’s Muslim Department Store menunjukan koleksi busana muslim terbaru jelang Ramadan. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kondisi pandemi covid-19 tidak menyurutkan niat masyarakat memenuhi kebutuhannya terhadap produk fesyen muslim.

Hal itu antara lain terlihat dari transaksi pembelian fesyen muslim yang meningkat drastis selama pandemi di platform Tokopedia.

Head Category Development (Fahsion) Tokopedia, Falah Fakhriyah mengatakan, berdasarkan data Tokopedia, fesyen muslim merupakan satu kategori yang kenaikannya lumayan besar selama kuartal II/2021 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Hanya saja, ia belum bisa menyebutkan angka kenaikannya. "Kenaikannya itu lumayan besar jika dibandingkan kuartal II/2020 lalu.

Selain itu kalau dilihat dari data, fesyen muslim kategori yang banyak dicari di Tokopedia," ujarnya, dalam diskusi media secara virtual Tokopedia, baru-baru ini.

Falah menyatakan, transaksi di Tokopedia untuk barang-barang yang bertemakan fesyen muslim mengalami peningkatan cukup besar, baik dari sisi jumlah yang membeli hingga jumlah para UMKM yang ikut dalam program tersebut.

Hal serupa diamini pemilik usaha dengan brand namanya sendiri, yaitu Vivi Zubedi. Menurut dia, saat ini peluang untuk bisnis fesyen muslim sangat besar, lantaran Indonesia menjadi satu negara yang memiliki jumlah penduduk beragama muslim paling banyak.

"Lihat saja, kalau dicari di Tokopedia, jual mukena pasti banyak. Bahkan kalau dibuat juga mukena yang motifnya bulat hitam, keluar juga. Artinya apa? Karena banyak yang minat, jadi penjualnya juga banyak," jelasnya.

Apalagi, Vivi mengungkapkan, kehadiran platform digital semakin membantu masyarakat bebas berbelanja kebutuhan fesyen muslimnya kapan pun dan di mana pun.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyebut, sektor Industri makanan halal dan fesyen muslim dapat menjadi sektor unggulan yang dapat berkontribusi dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Deputi Gubernur BI, Doni P Joewono mengatakan, hal itu tercermin dalam Global Islamic Economic Indicator yang mencatat industri makanan halal Indonesia berada di peringkat ke-4 dunia, sementara industri fesyen muslim Indonesia berada di peringkat ke-3 dunia.

Menurut dia, masa pandemi yang cenderung menghambat aktivitas global supply chain, menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menghidupkan pasar lokal dan aktivitas produksi nasional. BI mendorong pengembangan industri halal menggunakan pendekatan komprehensif, yakni melalui pengembangan ekosistem Halal Value Chain.

“Pertama, pengembangan industri halal tidak dapat hanya bertumpu pada produk dan pelaku usaha (dalam proses input dan produksi), tetapi seluruh komponen secara end-to-end, mulai dari proses pengemasan, distribusi, sampai dengan pemasaran,” paparnya.

Doni mengungkapkan, pendekatan yang kedua adalah pengembangan ekosistem Halal Value Chain juga mencakup sektor keuangan syariah yang mendorong pembiayaan syariah, baik melalui keuangan komersial syariah maupun keuangan sosial syariah, ZISWAF. (Kompas.com/Elsa Catriana/Tribunnews)

Baca juga: Kode Redeem FF Terbaru Senin 30 Agustus 2021, Buruan Klaim dan Dapatkan Hadiahnya!

Baca juga: Sinopsis Ikatan Cinta RCTI Malam Ini Senin 30 Agustus 2021 Pukul 19.30 WIB Nino Ingin Hak Asuh Reyna

Baca juga: Kemenkop-UKM dan Grup Accor Kolaborasi Serap Produk UMKM di Jateng-DIY

Baca juga: Jonathan Frizzy Dilaporkan Istri Terkait KDRT, Benny Simanjuntak Siap Bantu

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved