Breaking News:

Unsoed Purwokerto

Diskusi Buku Perlawanan Film-Film Banyumas terhadap Orde Baru Karya Akademisi Unsoed Purwokerto

Launching dan diskusi buku karya tiga orang dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed Purwokerto itu dilakukan di ajang Festival Film Purbalingga (FFP) 2021.

Editor: abduh imanulhaq
UNSOED
Para penulis Buku “Perlawanan Film-Film Banyumas terhadap Orde Baru” 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menerbitkan sebuah buku berjudul “Perlawanan Film-Film Banyumas terhadap Orde Baru”.

Buku tentang perfilman Banyumas tersebut diterbitkan oleh Penerbit Ombak tahun 2021 ini.

Launching dan diskusi buku karya tiga dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed itu dilakukan di ajang Festival Film Purbalingga (FFP) 2021, Jumat (27/8/2021) secara daring.

Gelaran Festival Film Purbalingga (FFP) 2021
Gelaran Festival Film Purbalingga (FFP) 2021 (IST)

Acara tersebut menghadirkan para penulis buku yaitu Muhammad Taufiqurrohman, Aidatul Chusna, dan Lynda Susana W.A.F.

Panitia juga menghadirkan dua pembahas, Tri Adi Sumbogo, akademisi Binus University yang sedang menulis disertasi doktoral tentang film Banyumas di Universitas Indonesia dan Bowo Leksono, Direktur CLC Purbalingga.

Sebelum diskusi dimulai, panitia menggelar nonton bareng film “ABRI Masuk Desa” (2019) yang diproduksi oleh CLC Purbalingga.

Acara diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Para peserta merupakan penggemar fim, pegiat film, peneliti film, akademisi, seniman dan masyarakat umum.

Muhammad Taufiqurrohman menyebutkan buku ini merupakan buah persahabatan dengan para pegiat film Banyumas, khususnya dengan CLC Purbalingga.

Lahirnya buku ini tidak terlepas dari kegelisahan para penulis dalam melihat masih kuatnya dua ideologi warisan Orde Baru, yaitu developmentalisme (pembangunanisme) dan militerisme.

Film Banyumas lahir dan hadir pada masa pasca Orde Baru dengan cerita-cerita berlatar desa yang mengkritik dua ideologi warisan Orde Baru tersebut.

Tri Adi Sumbogo menyampaikan terbitnya buku karya para akademisi Unsoed ini menandai 20 tahun usia film Banyumas, dihitung sejak produksi pertama film Banyumas pada 2001 berjudul “Kepada yang Terhormat:” karya Dimas Jayasrana.

Adi juga menambahkan buku ini penting untuk dibaca oleh para peneliti film indie pasca Orde Baru, khususnya para peneliti film Banyumas.

Bowo Leksono menyebut buku ini sebagai buku pertama yang merekam sejarah film Banyumas, tokoh perfilman Banyumas, profil penonton film Banyumas, hingga membahas isu-isu sosial seperti kritik terhadap warisan developmentalisme dan militerisme Orde Baru. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved