Breaking News:

Berita Batang

Kisah Inspirasi Guru Swasta di Batang Bertahan Hidup di Pandemi Buat Bakso Ayam Dijual Lewat Online

Sebagai guru swasta di Batang honor Franstri tak lebih dari Rp 400 ribu sebulan. Profesi tambahan sebagai badut pun sepi job. Istri biasa jualan

Penulis: dina indriani | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/ Dina Indriani
Franstri Yuli Saiful Andi tengah sibuk menyiapkan pesanan bakso ayam homemade di rumahnya, Proyonanggan Tengah, Batang, Senin (30/8/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG -- Sebagai guru swasta di Batang honor Franstri tak lebih dari Rp 400 ribu sebulan. Profesi tambahan sebagai badut pun sepi job.

Istri biasa jualan di kantin juga tutup karena siswa PJJ. Padahal Franstri harus hidupi keluarga. Jualan apa saja dilakoni yang penting halal.

DI tengah teriknya mentari terlihat pria berpakaian batik memasuki lorong yang hanya cukup dilintasi sepeda motor. Pria itu berhenti dan masuk di dalam rumah sederhana dengan menenteng keranjang kosong.

Tampak perempuan berkerudung menyambutnya dengan senyum kecil di bibir sambil salim cium tangan. Pasangan tersebut adalah Franstri Yuli Saiful Andi (36) dan Yuyun Ernawati Makromah (28) merupakan gambaran keluarga kecil yang saat ini tengah berjuang bertahan hidup di masa pandemi.

Ya senyum bahagia masih melekat di wajah keduanya, karena dagangan dalam keranjang habis terjual. Frans sapaan akrabnya, merupakan seorang guru di sekolah swasta di Kabupaten Batang. Gaji Frans sebulan kurang dari Rp 400 Ribu. Tentu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya.

Sebelum pandemi melanda, Frans memiliki kerja sampingan sebagai badut panggilan. Dia juga terbantukan dengan sang istri yang berjualan di kantin sekolah. Namun karena pandemi, kantin harus tutup karena kebijakan sekolah belajar dari rumah. Profesi sampingan sebagai badut juga sepi bahkan tidak ada pesanan pertunjukan sama sekali.

Kini Frans harus terus memutar otak untuk mencari sampingan berjualan agar kebutuhan keluarganya tercukupi. Seperti pedagang lainnya, pria lulusan Universitas Negeri Semarang ini juga merasakan pasang surut, lagi-lagi karena pandemi dagangannya juga terkadang tidak laku, bahkan pernah tidak balik modal.

"Memang pandemi ini cukup terasa bagi kami, dulu istri masih bisa jualan di kantin, badut juga sering ada job, sekarang ya sepi bahkan tidak mesti sebulan ada job badut," tuturnya saat ditemui Tribunjateng, Senin (30/8/2021).

Pantang menyerah

Hidupnya pun pernah berada di titik yang cukup sulit, saat istri dan anaknya sakit. Namun, semangat terus menyelimuti pikirannya, Frans tidak pernah kehabisan akal untuk terus mencari rejeki dengan berdagang.

Bermodal keahlian memasak, Frans menggunakan uang Rp 200 ribu Frans untuk membuat bakso. Dia membuat bakso ayam home made yang kemudian dijual secara online.

"Ya pasang surut jualan pasti ada, awal pandemi pernah jualan es tiga rasa tapi tidak begitu laku bahkan tidak balik modal, sosis bakar di sekolah juga sepi, ya bakso keliling juga tapi kendaraan tidak sanggup. Sekarang bikin bakso ayam home made secara online. Alhamdulillah banyak yang pesan. Saya jual Rp 5 ribu satu bungkus. Pokoknya harus 'ubet' jualan apa saja yang penting halal," tutur pria yang sudah mengajar di sekolah swasta sejak 2010 silam.

Tidak banyak yang dia harapkan di masa pandemi ini, Frans hanya berharap dia dan keluarganya diberikan kesehatan.
"Alhamdulillah walaupun hidup saya pas-pasan tapi tetap bersyukur, nikmat keluarga sehat saya sehat apa saja akan saya lakukan untuk keluarga," pungkasnya. (Dina Indriani)

Baca juga: Demi Perawatan Wajah untuk Skincare, Ibu Rumah Tangga Ini Nekat Mencuri Sapi

Baca juga: Kronologi Penemuan 2 Mayat Laki-laki dan Perempun di Kebun Sengon, Satu jenazah Dibungkus Karung

Baca juga: TNI AD Resmi Hapus Tes Keperawanan Calon Kowad

Baca juga: Manfaat Jahe Bagi Anak-anak, Sembuhkan Batuk Hingga Sakit Perut

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved