Breaking News:

Berita Kendal

SMKN 2 dan SMAN 1 Kendal Jadi Percontohan PTM Terbatas

SMKN 2 dan SMAN 1 Kendal menjadi percontohan PTM terbatas  yang dimulai sejak 1 September kemarin.

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Siswa SMKN 2 Kendal antre cuci tangan sebelum mengikuti PTM terbatas di sekolah, Kamis (2/9/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - SMKN 2 dan SMAN 1 Kendal menjadi percontohan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas  yang dimulai sejak 1 September kemarin.
.
Dua sekolah ini menjadi contoh skema PTM terbatas berlangsung untuk jenjang SMA sederajat di Kabupaten Kendal.

Kendati Pemerintah Kabupaten Kendal telah melangsungkan PTM lebih awal untuk 60 sekolah jenjang Paud, SD, dan SMP sejak pekan lalu.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Wilayah XIII (Kendal dan Batang), Ernest Ceti Septyanti mengatakan, dua sekolah ini ditunjuk karena sudah melakukan simulasi PTM sebelumnya. 

Katanya, sekolah yang melakukan PTM harus mengikuti 100 item standar protokol kesehatan dari Kementerian Kesehatan.

Pihaknya juga memberikan kesempatan semua sekolah mengajukan PTM, akan tetapi hanya sekolah yang benar-benar siap dan lolos verifikasi yang bisa menggelar PTM terbatas.

"Evaluasi pelaksanaan PTM terbatas akan dilakukan secara berkala. Jika berjalan baik, maka ditingkatkan. Jika terjadi kasus yang mendesak, maka bisa saja PTM di sekolah dihentikan. Kami sudah mengingatkan agar benar-benar mematuhi prokes secara ketat," terangnya, Kamis (2/9/2021).

Kepala SMKN 2 Kendal, Yudi Wibowo menerangkan, dalam PTM terbatas ini semua kelas diambil 30 persen.

Artinya, hanya 488 siswa dari jumlah total 1.614 siswa dari semua kelas yang berhak mengikuti pembelajaran langsung di sekolah. 

Dengan keterbatasan jam pelajaran, pihaknya memprioritaskan model pembelajaran praktik dari pada teori.

Tujuannya untuk mengejar keterampilan siswa yang tertinggal karena selama ini mengikuti pembelajaran sistem daring. 

"PTM terbatas ini, prosentase antara pembelajaran praktek dengan teori, lebih banyak prakteknya untuk mengejar ketertinggalan," ujarnya.

Seorang siswa, Ahmad Agus Najib mengaku, pembelajaran melalui daring selama ini tidak bisa maksimal.

Ia cenderung kesulitan memahami materi yang diberikan guru karena beberapa faktor.

Di antaranya susahnya sinyal yang sewaktu-waktu tidak lancar saat pembelajaran berlangsung.

"Sudah satu tahun tidak masuk sekolah, tentunya senang. Semoga pandemi ini selesai agar sekolah bisa normal kembali," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved