Wabah Corona

13.500 Anak Jadi Yatim Piatu Persentase Kematian Akibat Corona 3,5 Persen

Kerugian akibat virus corona tak hanya melulu soal ekonomi. Banyak juga kerugian nyawa yang timbul akibat virus tersebut. Korbannya pun tak memandang

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kerugian akibat virus corona tak hanya melulu soal ekonomi. Banyak juga kerugian nyawa yang timbul akibat virus tersebut. Korbannya pun tak memandang usia. Orang dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Bahkan selama 1,5 tahun pandemi Covid-19 berlangsung, belasan ribu anak-anak terpaksa menjadi yatim-piatu lantaran kehilangan orang tuanya yang meninggal karena terinfeksi virus ini. Menurut Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander Kaliaga Ginting, ada sekitar 13.500 anak yang kehilangan ayah atau ibunya yang meninggal karena terpapar Covid-19.

Alexander mengatakan, persentase kematian nasional akibat Covid-19 terbilang tinggi, yakni mencapai 3,5 persen. ”Dari risiko kematian kita cukup tinggi di atas 3,5 persen.

Kemudian juga dari laporan berbagai institusi bahwa jumlah anak yang kehilangan salah satu orang tua atau ibu atau ayah itu lebih kurang 13.500," kata Alex dalam dialog virtual bertajuk 'Strategi Isolasi Terpusat Minimalisir Fatalitas Akibat Covid-19' yang disiarkan YouTube BNPB, Kamis (2/9).

Menurut Alex, tak sedikit pula di antara belasan ribu anak tersebut yang kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Ini disebabkan oleh klaster keluarga yang terbentuk akibat tak segera dilakukannya isolasi di tempat isolasi terpusat.

”Di antara mereka dan yang kehilangan keduanya, ayahnya meninggal, ibunya juga meninggal. Dan kalau kita baca laporan tersebut bahwa semua ini karena dampak klaster keluarga dan penularan ini bisa dari ibunya, bisa dari ayahnya," tambah Alex.

Untuk itu kata Alex, apabila ada anggota keluarga sudah terdeteksi positif corona dan kondisi di rumah tidak memadai untuk isolasi mandiri (isoman), maka sebaiknya segera dirujuk ke isolasi terpusat agar klaster keluarga tidak melebar.

”Karena jika isoman apabila rumahnya tidak memadai, ini salah satu yang berpotensi naiknya klaster keluarga sehingga tak heran jika 1 wilayah kasus tinggi karena penularan dari isoman

Pemerintah menganjurkan masyarakat yang dinyatakan positif corona untuk menjalani isolasi di tempat isolasi terpadu (isoter) dibanding dengan isolasi mandiri (isoman) di kediaman masing-masing. Alex menjelaskan menjalani isoman di rumah yang tak memadai justru bisa menyebabkan klaster keluarga. Apalagi jika memiliki anggota keluarga yang rentan seperti lansia dan ibu hamil.

”Bagi mereka yang isoman tapi infrastrukturnya tidak memadai, yang kita khawatirkan nanti terjadi klaster keluarga. Jadi seorang anak yang masih aktif, pulang ke rumah, dia isolasi mandiri dan kemudian positif tapi di rumah itu ada lansia dua orang atau ada ibu hamil. Ini berpotensi ini mereka sakit, terinfeksi, perburukan. Sehingga, jika di rumah berpotensi klaster lebih baik ke isoter," tutur Alex.

Alex menuturkan, menjalani isolasi di pusat isoter bisa menjadi pencegahan dini dari risiko perburukan gejala. Sebab, kondisi pasien akan benar-benar dipantau oleh tim medis yang bersiaga di sana.

"Tapi kalau dipindahkan ke isoter, tentu ini akan ada deteksi dini dan pendampingan. Apalagi dari pihak TNI Polri dan dari Kemenkes sudah menyiapkan obat-obatan paket, dan di isoter ini ada tim medis yang memberikan obat-obatan tersebut dan mengantisipasi tersebut. Kalau terjadi perburukan, akan dengan segera bisa dibawa ke RS rujukan," ungkapnya.

Selain itu menjalani isolasi juga bisa mengurangi risiko penularan pada orang lain, misalnya seperti rekan di kantor. "Akan lebih aman kita menyelamatkan diri kita, kita juga menyelamatkan orang yang kita sayangi. Ini juga akan mengurangi kasus-kasus yang berpotensi menular antar sesama mereka yang satu kantor," tutup Alex.

Hotel dan Mal Banyak Dijual

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved