Breaking News:

Berita Nasional

Tarif Kargo Laut Naik Hingga 500 Persen, Ini Solusi yang Ditawarkan Mendag, Menhub, dan Kadin

Para pengusaha ekspor di Indonesia mengeluhkan tarif kargo laut yang naik hingga 500 persen.

Editor: rival al manaf
China OUT / AFP / STR
Ilustrasi tumpukan kontainer 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Para pengusaha ekspor di Indonesia mengeluhkan tarif kargo laut yang naik hingga 500 persen.

Menanggapi keluhan tersebut Menteri Perdagangan, Menteri Perhubunganm dan Kamar Dagang dan Industi (Kadin) merumuskan solusi problematika tersebut.

Mereka berunding di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (31/9/2021).

Sejumlah perwakilan dari perusahaan pengiriman barang via laut, termasuk perwakilan dari perusahaan yang berstatus multi nasional, menyampaikan penjelasan mereka mengapa kapasitas pengiriman berkurang drastis, dan harganya meningkat.

Baca juga: HEBOH! Uang Logam bisa Ditukar hingga Rp 750.000, Ini Penjelasan Bank Indonesia

Baca juga: Presiden Lazio Pastikan Rezim Inzaghi Sudah Pindah ke Inter Milan, Kini Ia Percaya Rezim Sarri

Baca juga: Terkait Temuan Pelanggaran TWK KPK, Komnas HAM Berharap Bisa Jelaskan Langsung kepada Jokowi

Baca juga: Jumat (3/9) Hari Ini Daftar Harga Emas Antam Turun Rp 2.000 menjadi Rp 937.000 per Ggram

Ketua Umum Kadin, Arsjad Rasjid dalam pertemuan tersebut, menyampaikan bahwa pihaknya bertugas membantu pemerintah dan pengusaha, agar terjalin komunikasi yang baik, sehingga dapat ditemukan solusi dari permasalahan kargo laut, dan roda perekonomian bisa berputar lebih kencang.

"Tugas kita membantu dan mengkonsolidasi," ujar Arsjad Rasjid.

Sementara itu Mendag menyampaikan bahwa pemerintah sadar, saat ini kapasitas perusahaan penyedia jasa kargo laut semakin sedikit sehingga pengusaha kesulitan mengirim barang ke luar negeri via laut.

Selain itu, tarif pengiriman barang via laut juga meningkat tajam yang juga membuat pengusaha kesulitan.

"Saat ini ada pengusaha furnitur, UMKM, kerajinan tangan, dari Bali dari Jogja, yang barang-barangnya tidak bisa dikirim, karena masalah transportasi."

"Kami ingin tahu apa yang bisa kami lakukan, tanpa merusak mekanisme pasar," ujar Muhammad Lutfi.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved