Breaking News:

Banyak Hotel bakal Dijual Akibat Dampak Pandemi

selama pandemi dan adanya pembatasan mobilitas masyarakat sangat menekan bisnis hotel di berbagai daerah.

Editor: Vito
Thinkstock.com/kompas.com
ILUSTRASI - Kamar hotel 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA  - Pandemi covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 hingga saat ini menyebabkan beberapa hotel terpaksa harus dijual, karena tidak dapat menanggung beban operasional.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono mengatakan, selama pandemi dan adanya pembatasan mobilitas masyarakat sangat menekan bisnis hotel di berbagai daerah.

"Jadi banyak juga hotel dijual, dari hotel budget, hotel bintang 5 juga ada, bintang dua ada, non-bintang juga ada. Bukan hanya di Jakarta, di luar daerah juga sama," katanya, saat dihubungi Tribunnews, pekan lalu.

Menurut dia, informasi hotel dijual didapat dari para pengusaha hotel yang curhat mengenai kondisi keuangan usahanya.

"Mereka sudah tidak bisa lagi beroperasi, okupansi juga di bawah 10 persen, karena tamu hotel itu lebih banyak dari luar kota. Tapi saya tidak tahu angka persisnya, berapa hotel yang dijual, karena ada juga yang tidak terbuka urusan dapurnya," papar Sutrisno.

Adapun cara menyelamatkan bisnis hotel, menurut dia, dapat dilakukan dengan mendatangkan tamu. Namun saat kondisi seperti ini merupakan langkah yang sulit, karena berpotensi menjadi penyebab penyebaran covid-19.

"Susah juga, mungkin pajak-pajak yang memberatkan bisa dihapus terlebih dahulu. Pajak daerah itu besar juga, 10 persen, tapi kan sekarang pemerintah mau naikkan pajak UMKM, padahal pengusaha hotel kecil juga UMKM," tuturnya.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran berharap, membaiknya tren kasus konfirmasi covid-19 dapat memberikan pelonggaran pada sektor pariwisata dan hiburan.

Menurut dia, sektor tersebut telah tutup sejak awal pandemi lalu. "Tentu kami berharap ada pelonggaran, karena situasinya di bisnis itu tidak mudah diminta tutup terus," jelasnya.

Ia menyebut, pelaku usaha wisata dan hiburan menanggung beban berat akibat kondisi tersebut. Sejauh ini dunia usaha harus berjuang sendiri memikirkan para pekerjanya. “Pemerintah buat kebijakan, tetapi yang berdarah-darah kita pelaku usaha,” tukasnya.

Ia menyebut, pemerintah seharusnya berkontribusi lebih kepada pengusaha yang berjuang membuka lapangan pekerjaan. Yusran meminta pemerintah memikirkan pengeluaran-pengeluaran dunia usaha yang besar agar tidak banyak pengusaha gulung tikar. “Memang kondisi ini tidak mudah,” ucapnya.(Tribunnews/Yanuar Riezqi Yovanda)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved