Breaking News:

Berita Semarang

Ini Catatan KNKT Soal Penyebab Seringnya Kecelakaan di Tol Semarang-Solo

Sesuai pengamatannya, banyak jalur penyelamat yang lokasinya tidak strategis. Misalnya, terletak setelah tikungan atau ada penghalang pandangan semisa

Penulis: hermawan Endra | Editor: m nur huda
tribun jateng/hermawan endra
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dan Wakil Ketua Komite I DPD RI, Abdul Kholik dan BPJT melihat titik rawan kecelakaan di jalur tol Semarang-Solo.  

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Sejumlah kecelakaan maut kerap terjadi di jalan tol Trans Jawa, termasuk ruas Semarang-Solo.

Insiden yang terjadi baru-baru ini, kecelakaan lalu lintas yang dialami Ketua Umum MUI Pusat yang juga Rais Aam BPNU, KH Miftachul Akhyar. 

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Komite I DPD RI, Abdul Kholik pun mengirimkan surat kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). 

Baca juga: Truk Muatan Paket Kecelakaan di Tol Semarang Akibat Pecah Ban

Baca juga: BREAKING NEWS: Mantan Dandim Batang Meninggal Dunia karena Kecelakaan di Tol Semarang-Batang 

Baca juga: Kecelakaan Maut di Tol Semarang-Solo, Mobil Elf Vs Truk Boks, 1 Meninggal Dunia

Baca juga: Kondisi Terkini Ketum MUI Pusat Setelah Dirawat, Alami Kecelakaan Mobil di Tol Semarang-Salatiga

Isinya agar segera mengaudit tentang keselamatan jalan tol, khususnya ruas Semarang-Solo yang dinilai rawan kecelakan lalu lintas. 

Surat tersebut ditindaklanjuti BPJT dan KNKT dengan meninjau langsung ke sejumlah titik di ruas tol ini, Rabu (8/9/2021). 

Ada sejumlah catatan dari tim di ruas ini, antara lain terkait jalur penyelamat, rest area atau tempat istirahat, dan proses penanganan kendaraan macet di tol. 

"Jalur Semarang-Solo ini kan jalannya naik turun, banyak bermasalah saat turun. Butuh jalur penyelamat. Kami minta untuk Kementerian PUPR membuat standarisasi jalur penyelamat seperti apa," kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono saat di rest area Salatiga. 

Ia meminta agar ada inventarisasi jalur penyelamat mana saya yang perlu dilakukan perbaikan. 

Sesuai pengamatannya, banyak jalur penyelamat yang lokasinya tidak strategis. Misalnya, terletak setelah tikungan atau ada penghalang pandangan semisal di jalur sebelumnya ada jembatan dan sebagainya. 

"Jadi sopir tidak lihat. Tahu-tahu kebablasan. Sehingga tidak masuk jalur penyelamat. Standarisasi bisa dilakukan. Perbaikan dan efektifkan jalur penyelamat. Kalau ada kekurangan, diperbaiki," jelasnya. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved