Breaking News:

Aprindo Minta Sektor Ritel Masuk Prioritas Pemerintah

sektor ritel berkaitan erat dengan konsumsi rumah tangga yang menyumbang peranan besar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Editor: Vito
(Tribun Jateng / Ruth Novita Lusiani)
ilustrasi - pengunjung berjalan-jalan di Mal Ciputra Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) berharap sektor ritel modern dimasukkan ke dalam sektor prioritas di 2022.

Ketua Umum Aprindo, Roy Mandey mengatakan, dasar permintaan itu yakni sektor ritel berkaitan erat dengan konsumsi rumah tangga yang menyumbang peranan besar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Selain itu, menurut dia, sektor ritel modern menjadi satu sektor yang paling terdampak adanya kebijakan terkait dengan pandemi covid-19.

Seperti pada saat pemerintah harus menarik rem darurat melalui PSBB maupun PPKM, sektor ritel mau tak mau harus ikut membatasi jumlah pengunjung, bahkan juga tutup.

“Sektor ritel modern atau pasar swalayan ini erat kaitannya dengan konsumsi rumah tangga. Kalau misal tutup, nanti bisa memberikan multiplier effect, konsumsi rumah tangga bisa tidak berjalan, dan ini akan memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi,” katanya, kepada Kontan, baru-baru ini.

Roy menuturkan, dengan belum masuknya sektor ritel ke dalam sektor prioritas, membuat sektor ini belum mendapatkan bantuan secara maksimal. Seperti sulit dalam mendapatkan restrukturisasi kredit.

Tak hanya itu, dia menambahkan, sektor ritel juga tak mendapatkann kucuran dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), serta para karyawan sektor ritel bahkan tidak mendapatkan bantuan subsidi upah (BSU).

Meski demikian, Roy mengapresiasi bantuan yang diberikan pemerintah. Satu di antaranya pemerintah menanggung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen atas sewa toko atau gerai para pedagang eceran.

Hanya saja, ia menyebut, yang mencicipi bantuan tersebut bukan seluruh pengusaha ritel, tetapi mereka yang menyewa saja. Pengusaha ritel yang memiliki gedung tidak mengecap manisnya bantuan tersebut.

“Bukannya kami melihat bahwa sektor lain yang menerima bantuan tidak penting, tetapi kami hanya berharap ritel juga perlu jadi prioritas, supaya bisa mendapatkan restrukturisasi, dapat dana alokasi PEN, dan juga dapat BSU untuk karyawannya. Apalagi ritel kontributor utama konsumsi rumah tangga,” paparnya.

Roy berujar, hingga kini pemerintah masih menampung usulan dari para pengusaha tersebut, alias belum memberikan keputusan lebih lanjut terkait dengan hal itu.  (Kontan.co.id/Bidara Pink)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved