Breaking News:

Investigasi FBI Ungkap Keterlibatan Oknum Arab Saudi dalam Serangan Teroris 11 September di AS

sebanyak 15 dari total 19 penyerang berasal dari Arab Saudi. Namun, pemerintah AS tidak menemukan bukti Arab Saudi mendanai Al Qaeda.

Editor: Vito
Ed JONES / AFP
Anggota keluarga berduka di National 9/11 Memorial selama upacara memperingati 20 tahun serangan 9/11 di World Trade Center, di New York, pada 11 September 2021. 

TRIBUNJATENG.COM, WASHINGTON DC, TRIBUN - FBI merilis dokumen terkait dengan penyelidikan serangan teroris di New York, AS pada 11 September 2001, atau disebut insiden 11/9, yang menewaskan hamipr 3.000 orang.

Seperti diketahui, tepat 20 tahunu lalu pada 11 September 2001, sebanyak 19 teroris membajak empat pesawat komersil AS untuk menyerang sejumlah situs penting, satu di antaranya World Trade Center (WTC) di New York City.

Serangan juga diarahkan ke Washington DC, Shanksville di Pennsylvania, dan Pentagon di Virginia, hingga diperkirakan menyebabkan korban jiwa sebanyak 2.977. Pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden, yang disebut dilindungi Taliban di Afghanistan, dituding menjadi dalang dari insiden itu.

Perilisan dokumen itu pada Sabtu (11/9) lalu, dilakukan bertepatan dengan peringatan 20 tahun terjadinya penyerangan beruntun yang diyakini didalangi kelompok Islam radikal Al Qaeda.

Dokumen itu diungkap ke publik sesuai dengan perintah Presiden AS, Joe Biden, menyusul desakan keluarga korban serangan teroris itu dan adanya kecurigaan Arab Saudi mendukung para teroris.

Dilansir Reuters, keluarga dan penyintas insiden 11/9 sebelumnya meminta Biden tidak hadir di Ground Zero di New York City dalam peringatan 20 tahun jika tidak mendeklasifikasi dokumen tersebut. Hal itu lantaran mereka memiliki dugaan bahwa otoritas Arab Saudi mendukung plot penyerangan itu.

Perilisan dokumen itu juga telah mendapat persetujuan Kementerian Kehakiman AS. Seorang juru bicara Kementerian Kehakiman mengatakan pada Agustus bahwa pemerintah memberi tahu pengadilan federal Manhattan bahwa FBI baru-baru ini menyudahi penyelidikan terkait dengan pembajak 11 September.

Dari sana, pengadilan menyatakan keputusan membuka informasi ke publik merupakan hak instimewa pemerintah AS. Bersamaan dengan itu, FBI telah memutuskan akan meninjau informasi apa yang dapat disampaikan kepada publik.

"FBI akan mengungkapkan informasi tersebut secara bergulir secepat mungkin," kata juru bicara itu dikutip dari CNN, Minggu (12/9).

Biden memuji keputusan Kementerian Kehakiman dengan mengatakan bahwa ini merupakan tidak lanjut janji kampanyenya agar kementerian merilis catatan 11/9, dan menggandakan komitmennya kepada keluarga korban serangan 11 September.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved