Breaking News:

OPINI

OPINI Hendrawan Toni Taruno : Optimalkan Sektor Unggulan

SEBAGAIMANA sudah diprediksi banyak kalangan, ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Tengah, berhasil keluar dari jurang resesi pada kuartal 2 tahun 2021 in

Editor: Catur waskito Edy
Bram
Hendrawan Toni Taruno 

Oleh Hendrawan Toni Taruno, SST, MA
Statistisi Muda BPS Provinsi Jawa Tengah

SEBAGAIMANA sudah diprediksi banyak kalangan, ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Tengah, berhasil keluar dari jurang resesi pada kuartal 2 tahun 2021 ini.

Secara tahunan, ekonomi Jawa Tengah pada kuartal 2/2021 mampu tumbuh positif sebesar 5,66 persen, jauh melejit dibandingkan kondisi tahun sebelumnya, yang terkontraksi hingga 5,91 persen. Meskipun belum sepenuhnya membaik, namun capaian ini menunjukkan adanya konsistensi pemulihan ekonomi yang terjadi dalam satu tahun terakhir.

Pemulihan ekonomi

Sinyal pemulihan ekonomi di Jawa Tengah sebenarnya sudah terlihat sejak kuartal 3/2020, dimana pada waktu itu, konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, dan kinerja ekspor sudah mulai meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Secara agregat, pertumbuhan sudah mulai beranjak naik menjadi -3,79 persen. Progress pemulihan ekonomi kembali terlihat pada kuartal 4/2020, dimana kontraksi ekonomi dapat ditekan pada angka 3,34 persen.

Memasuki tahun 2021, situasi ekonomi kembali menggeliat. Tercatat, konsumsi Pemerintah sudah mulai tumbuh positif. Hal ini seiring dengan dimulainya program vaksinasi untuk tenaga frontliners.

Begitupun juga dengan kinerja ekspor yang mulai tumbuh positif, seiring meningkatnya permintaan agregat. Meskipun secara total masih terkontraksi 0,84 persen, namun ekonomi Jawa Tengah pada kuartal 1/2021 sebenarnya sudah mampu tumbuh positif 0,47 persen jika faktor migas dihilangkan.
Tantangan berat

Sekalipun ekonomi Jawa Tengah telah keluar dari jebakan resesi, namun ada beberapa catatan yang perlu dicermati. Pertama, pertumbuhan yang ‘tinggi’ sebesar 5,66 persen, seperti halnya yang terjadi pada level nasional, sebenarnya bukanlah capaian yang terlalu menggembirakan.

Capaian ini, sebenarnya lebih disebabkan karena adanya low base effect, yaitu kondisi dimana basis penghitungan pada periode sebelumnya berada pada posisi yang cukup rendah. Akibatnya, hasil perhitungan menjadi terlihat cukup tinggi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved