Breaking News:

Opini

OPINI DR Aji Sofanudin : Mengenal Lebih Dekat Sekolah Perjumpaan

BELAKANGAN ini berkembang apa yang disebut sebagai Sekolah Perjumpaan (SP). Meskipun bukan agama, namun nilai yang diajarkan SP berkesuaian

Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Opini ditulis oleh Dr Aji Sofanudin, M.Si/Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang 

Dr Aji Sofanudin, MSi
Pengurus Himpunan Peneliti Indonesia Jateng

BELAKANGAN ini berkembang apa yang disebut sebagai Sekolah Perjumpaan (SP). Meskipun bukan agama, namun nilai yang diajarkan SP berkesuaian dengan nilai-nilai agama.

SP merupakan sekelompok orang yang secara sadar berkomitmen untuk mempraktikkan norma-norma berbahasa dalam setiap perjumpaan selama hidup.

Inti ajarannya adalah menepati janji, teguh untuk menjalankan komitmen. Setiap orang adalah guru dan setiap perjumpaan adalah sekolah. Inti pokok ajaran SP mirip dengan agama.

Mafhum bahwa, agama dimaknai sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.

Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci.

Dalam sebuah hadis disebutkan Addinun Nasihat, agama adalah komitmen. Komitmen kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, para pemimpin dan masyarakat. Dalam KBBI, komitmen diartikan sebagai perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak; tanggung jawab. Dalam teologi Islam, komitmen manusia kali pertama adalah saat berjumpa dengan Tuhan, ada perjanjian khusus.

Alastu birabbikum qolu bala syahidna, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi (QS Al-A’raf: 172). Itulah makna agama yang jarang diungkapkan.

Pendidikan karakter

SP tumbuh dan berkembang di Nusa Tenggara Barat (NTB). SP dianggap sukses melakukan perubahan pada banyak komunitas di NTB, salah satunya di Pagutan Lombok Tengah (Hamid, 2021). SP juga sudah dan sedang diterapkan pada satuan pendidikan (sekolah, madrasah, dan pesantren) di Lombok Barat. SP merupakan model pembelajaran nilai, model pendidikan karakter. SP akan diujicobakan sebagai “obat”, sebagai alternatif model pendidikan karakter.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved