Breaking News:

Jokowi Tak Antikritik: Minta Polisi Tak Berlebihan

Jokowi meminta agar jajaran Polri tidak berlebihan memberantas mural dan menindak segala bentuk kritikan dari masyarakat.

Editor: Vito
ISTIMEWA
ilustrasi - Mural Presiden Jokowi bertuliskan 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) rupanya menanggapi serius aksi reaktif aparat terkait dengan kritik terhadap pemerintah antara lain kasus penghapusan mural yang belakangan muncul di sejumlah daerah.

Jokowi bahkan telah menegur Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terkait dengan tindakan reaktif aparat tersebut. "Saya sudah tegur Kapolri soal ini," ujar Jokowi, dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/9), seperti dikutip dari Kompas.TV.

Presiden mengaku tidak mengetahui perihal adanya penangkapan pelaku hingga penghapusan mural tersebut. Namun, menurut dia, tindakan represif itu merupakan inisiatif petugas di lapangan.

"Kapolri mengatakan itu bukan kebijakan kita, tapi Kapolres. Dari Kapolres juga menyatakan bukan kebijakan mereka, tapi di Polsek," terangnya.

Jokowi pun meminta agar jajaran Polri tidak berlebihan memberantas mural dan menindak segala bentuk kritikan dari masyarakat.

“Saya minta agar jangan terlalu berlebihan. Wong saya baca kok isi posternya. Biasa saja. Lebih dari itu, saya sudah biasa dihina," katanya.

Jokowi pun menegaskan bahwa dirinya tidak antikritik seperti yang dituduhkan. "Saya tidak antikritik. Sudah biasa dihina. Saya ini dibilang macam-macam, dibilang PKI, antek asing, antek aseng, planga-plongo, lip service. Itu sudah makanan sehari-hari," ucapnya.

Adapun sebelumnya, Jokowi dianggap alergi terhadap kritik lantaran sikap reaktif terkait dengan unculnya sejulah mural dan protes. Sejumlah karya itu dihapus dan pembuatnya diburu.

Satu di antaranya, gambar wajah Presiden Jokowi yang disertai tulisan '404: Not Found' yang dituliskan menutupi mata gambar itu. Pembuatnya lantas dicari polisi.

Selain itu, sebuah mural di sudut jalan di Bangil, Kabupaten Pasuruan, mendadak dihapus jajaran pemkab. Penghapusan mural bertuliskan 'Dipaksa Sehat di Negara Yang Sakit' itupun sempat menjadi viral di media sosial.

Selain itu juga terjadi penghapusan mural bertuliskan 'DIPENJARA KARENA LAPAR' di Jalan Gatot Subroto, kolong Fly Over Taman Cibodas, arah menuju Jatiuwung, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang.

Adapun, aksi Polri menangani kritik masyarakat terhadap pemerintah juga menjadi sorotan, yakni terkait dengan penangkapan terhadap pelaku aksi membentangkan spanduk protes di tengah kunjungan Presiden.

Hal itu antara lain dialami Suroto, peternak yang membentangkan spanduk protes bertuliskan 'Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar' ke iring-iringan Presiden saat berkunjung ke Blitar, Jawa Timur, pada Selasa (7/9).

Selain itu, hal serupa juga dialami 10 mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo baru-baru ini yang membentangkan sejumlah spanduk di sela kunjungan Presiden di kampus itu pada Senin (13/9).

Baik Suroto maupun sejumlah mahasiswa UNS itu sempat diamankan kepolisian, tetapi kemudian berakhir dibebaskan. Bahkan, Jokowi mengundang Suroto ke Istana pada Rabu (15/9). Namun, hal serupa belum terjadi pada 10 mahasiswa UNS. (Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved