Opini

OPINI Nurul Lathiffah : Kartun Anak dan Propaganda Positif

penilaian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bahwa propaganda positif melalui tayangan televisi yang dikemas berupa film kartun mengalahkan tayangan

TRIBUN JATENG
Nurul Lathiffah S Psi, Penulis Buku Bacaan di Balai Bahasa Yogyakarta 

TRIBUNJATENG.COM, Muthakir ini, penilaian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bahwa propaganda positif melalui tayangan televisi yang dikemas berupa film kartun mengalahkan tayangan-tayangan lokal menjadi pernyataan yang menarik untuk dicermati.

Tayangan kartun Upin Ipin dari Negeri Jiran memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hiburan anak. Selain mengandung banyak kosakata yang unik. Tayangan Upin Ipin juga menawarkan pengetahuan baru tentang budaya di Malaysia. Tentu saja, hal ini tidak melulu negatif. Bahkan, kisah Upin Ipin yang diasuh oleh keluarga besar menjadi role model pengasuhan positif.

Bukan hanya anak muda, anak usia dini di Indonesia juga tertarik untuk mengakses film kartun melalui ponsel pintar. Hal ini menjadi trend masyarakat milenial yang tidak bisa terputus dengan koneksi internet.

Upin Ipin dan film kartun lainnya yang berasal dari luar negeri memang memiliki daya tarik tersendiri. Hanya saja KPI berharap bahwa konten tayangan lokal untuk anak diharapkan terus diproduksi sebagai sebuah strategi pembudayaan kultur nilai-nilai ketimuran Nusantara.

Fenomena anak usia dini menyukai tayangan kartun yang diproduksi oleh Malaysia semisal Upin Ipin sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari kurangnya tayangan anak buatan Indonesia. Konten yang sehat dan edukatif untuk anak memang masih terbatas.

Padahal, anak-anak membutuhkan tayangan kartun sebagai media pembelajaran, hiburan, dan pemanfaatan waktu luang. Dan, tayangan kartun semisal Upin Ipin akhirnya menjadi pilihan yang menarik bagi anak.

Nilasuwarna (2020) menjelaskan bahwa pola perilaku sosial anak yang senang menonton film kartun Upin dan Ipin menunjukkan perilaku pro sosial, seperti kerjasama, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, sikap ramah, dan perilaku lekat.

Meski demikian, ada pula perilaku anti sosial yang dipolakan anak dalam perilaku, seperti negativisme, pertengkaran, dan egosentrisme.

Orang tua dan pendamping anak tetap harus memberikan penguatan perilaku positif dan memberikan bimbingan pada anak untuk tidak memproduksi perilaku negatif setelah melihat tayangan kartun.

Banjir tayangan kartun dari luar negeri tidak selalu buruk. Sebenarnya, melalui tayangan kartun yang diproduksi luar negeri, anak-anak dapat mempelajari kultur negara-negara lain, tak hanya Indonesia. Hanya saja, masalah semakin meruncing ketika tayangan kartun lokal tak kunjung diminati anak. Hal ini bisa disebabkan oleh minimnya konten kartun yang berasal dari Indonesia.

Meski tidak sampai menjadi psywar, banjirnya tayangan kartun anak yang diimpor dari luar negeri sejatinya memberikan kesempatan pada anak untuk jauh lebih banyak belajar budaya manca, dibanding budayanya sendiri. Padahal, Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang majemuk, santun, toleran, ramah, dan juga kearifan lokal.

Tayangan kartun yang bersumber pada nilai-nilai kearifan lokal Indonesia harus tetap ada. Hal tersebut sebagai media pembudayaan budaya nusantara pada anak, sekaligus mempromosikan budaya Indonesia agar dikenal oleh dunia internasional. Harapannya, nilai-nilai kehidupan harmoni di atas perbedaan dapat menyebar dalam konteks global.

Buatan Indonesia

Sebenarnya, ada beberapa animasi buatan Indonesia yang tak kalah dari animasi buatan Jepang atau Malaysia. Kuku Rock You, Si Juki The Movie, Battle of Surabaya, Kiko and Friends, Knight Kris, dan Candy Monster merupakan film kartun anak yang pernah mendunia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved