Breaking News:

Berita Internasional

Unjuk Rasa Tolak Bitcoin Memanas di Elsalvador, Warga Bakar ATM Uang Kripto

Rabu (15/9/2021), ribuan warga El Salvador berdemo menentang bitcoin yang disahkan sebagai alat pembayaran oleh pemerintah.

Kompas.com/Istimewa
ATM bitcoin El Salvador, Chivo, dibakar massa dalam aksi unjuk rasa menentang Presiden Nayib Bukele di San Salvador, Rabu (15/9/2021). Ribuan pengunjuk rasa menolak bitcoin sebagai alat pembayaran sah, dan memprotes upaya Bukele untuk menjabat lagi pada 2024, karena batas masa jabatan presiden di El Salvador adalah satu periode.(AP PHOTO/IVAN MANZANO) 

TRIBUNJATENG.COM, SAN SALVADOR - Rabu (15/9/2021), ribuan warga El Salvador berdemo menentang bitcoin yang disahkan sebagai alat pembayaran oleh pemerintah.

Para pengunjuk rasa juga menolak reformasi peradilan yang menurut para kritikus mengancam demokrasi.

El Salvador pekan lalu menjadi negara pertama yang menggunakan bitcoin sebagai alat pembayaran sah selain dollar AS.

Baca juga: Para Pemimpin Taliban Dikabarkan Bertikai Perebutkan Jabatan di Pemerintahan Baru Afghanistan

Pengesahan bitcoin El Salvador yang dilakukan Presiden Nayib Bukele ini disambut dengan campuran rasa ingin tahu serta keprihatinan.

Pada hari ketika Amerika Tengah menandai peringatan dua abad kemerdekaannya dari kekuasaan Spanyol, pengunjuk rasa membakar mesin ATM bitcoin bernama Chivo di San Salvador, salah satu dari sekitar 200 ATM yang dipasang di seluruh negeri.

Para pedemo di alun-alun pusat ibu kota juga mengangkat tinggi-tinggi plakat yang mencela "kediktatoran", dan tulisan-tulisan "Hormati Konstitusi", "Tolak bitcoin."

Sejumlah hakim dengan jas dan dasi juga ikut demo El Salvador untuk menentang UU yang baru-baru ini disahkan oleh legislatif yang dikendalikan Bukele.

Undang-undang tersebut memberhentikan semua hakim di atas 60 tahun atau yang memiliki masa kerja lebih dari 30 tahun. Aturan itu akan berdampak pada sekitar sepertiga dari semua hakim yang menjabat.

"Kami turun ke jalan karena kami menuju ke arah otoritarianisme... kediktatoran," kata Esli Carrillo, hakim berusia 48 tahun, dikutip dari AFP. 

Undang-undang itu, kata demonstran lain, hakim Luciano Lovato (55), mengancam independensi peradilan dan aturan hukum yang telah mereka upayakan dengan sangat keras.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved