Breaking News:

Berdampak Luas, PPnBM DTP 100% Diperpanjang hingga Akhir Tahun

kebijakan itu untuk mendorong penjualan mobil, sehingga menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian Indonesia.

Editor: Vito
ISTIMEWA/TRIBUN JATENG
ilustrasi - Truk pengangkut kendaraan baru dari pabrik melintas di kawasan Sunter, Jakarta, baru-baru ini. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Insentif pajak berupa Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) 100 persen untuk kendaraan bermotor diputuskan diperpanjang hingga akhir 2021.

Insentif yang diperpanjang meliputi, PPnBM DTP 100 persen untuk segmen kendaraan bermotor penumpang dengan kapasitas mesin sampai dengan 1.500 cc, PPnBM DTP 50 persen untuk kendaraan bermotor penumpang 4x2 dengan kapasitas mesin di atas 1.500 cc-2.500 cc, serta PPnBM DTP 25 persen untuk kendaraan bermotor penumpang 4x4 dengan kapasitas mesin di atas 1.500 cc-2.500 cc.

Kelebihan PPnBM dan/atau PPN atas pembelian kendaraan bermotor pada September 2021 akan dikembalikan atau refund oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan pemungutan.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan, kebijakan itu untuk mendorong penjualan mobil, sehingga menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian Indonesia.

“Perpanjangan insentif dilakukan untuk menstimulasi konsumsi masyarakat kelas menengah, seiring dengan perkembangan positif penanganan pandemi covid-19, sehingga diharapkan terus dimanfaatkan,” katanya, Jumat (17/9).

Menurut dia, insentif tersebut diberikan untuk menambah daya dorong kebijakan dalam menstimulasi konsumsi masyarakat. Dalam PMK baru yaitu PMK 120/PMK 010/2021, besaran insentif diskon PPnBM Kendaraan Bermotor yang semula diberikan dari Maret hingga Agustus 2021 diperpanjang menjadi hingga Desember 2021.

Kementerian Keuangan melaporkan, secara kumulatif Januari-Juli 2021, penjualan mobil ritel telah tumbuh 38,5 persen dari periode sama tahun lalu.

Hal itu menunjukkan geliat yang sangat positif sebagai dampak kebijakan insentif diskon pajak yang telah diberikan. "Dengan peningkatan penjualan itu, para produsen kendaraan bermotor pun dapat kembali beroperasi dengan kapasitas yang lebih tinggi," ujar Febrio.

Catatan Kementerian Perindustrian, produksi mobil secara kumulatif Januari-Juli 2021 mampu tumbuh 49,4 persen yoy. Peningkatan produksi itu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga ekspor kendaraan complete knockdown (CKD) yang tumbuh 169,7 persen pada periode yang sama.

Dengan performa tersebut, kinerja pertumbuhan PDB sektor industri dan perdagangan alat angkutan dapat tumbuh double digit atau masing-masing sebesar 45,7 persen yoy dan 37,9 persen yoy pada kuartal II/2021.

Febrio menyebut, kebijakan fasilitas diskon PPnBM tidak hanya memiliki dampak yang signifikan pada sisi permintaan, tetapi juga pada sisi produksi. Hal itu sangat krusial mengingat peningkatan sisi produksi juga memiliki dampak positif kepada tingkat penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, prasyarat pemberian fasilitas diskon PPnBM Kendaraan Bermotor dengan tingkat kandungan produk dalam negeri yang tinggi juga memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang cukup besar pada sektor pendukungnya, seperti sektor industri barang logam, industri logam dasar, industri karet, dan jasa keuangan. Sektor otomotif juga merupakan sektor strategis yang memiliki nilai tambah dan level adopsi teknologi yang relatif tinggi.

“Momentum pemulihan sektor otomotif nasional diharapkan terus berlanjut seiring dengan kondisi pandemi yang lebih terkendali dan penguatan ekonomi global yang mendorong permintaan ekspor produk otomotif nasional,” ucap Febrio. (Kontan.co.id/Yusuf Imam Santoso)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved